SOLOR, AKSARNEWS.NET – Hamparan sayur yang hijau membentang di Kawasan Pertanian Biri, Desa Nuhalolon, Kecamatan Solor Barat. Sulit membayangkan kawasan yang dahulu identik dengan lahan kering itu kini menjadi sentra hortikultura yang produktif.
Di atas lahan sekitar 2,5 hektar yang sebelumnya ditanami jagung, kini ditumbuhi beragam tanaman hortikultura. Terung, tomat, cabai, sawi putih, sawi hijau, pakcoy, wortel, kangkung, bayam, timun, kacang panjang hingga kacang buncis tumbuh subur.
Para petani memanfaatkan satu unit sumur bor yang dibangun melalui Program 100 Hari Kerja Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen dan Wakil Bupati Ignasius Boli Uran, yang didanai melalui APBD Kabupaten Flores Timur Tahun Anggaran 2025.
Ada lima kelompok tani yang mengelola lahan pertanian tersebut. Anggotanya terdiri dari petani milenial hingga petani yang telah lama menggarap lahan pertanian.
Saat ditemui di kawasan pertanian Biri, Kamis (27/8/2026), Gius Lewar, salah seorang petani yang pernah mengikuti program magang ke Soe, Timor Tengah Selatan, menceritakan perubahan yang mereka rasakan sejak hadirnya sumur bor.
“Pada kesempatan ini kami menyampaikan apresiasi, terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Flores Timur yang telah mengalokasikan program 100 hari dengan memberi kami sumur bor,” katanya.
Menurut Gius, sumur bor tersebut memberi dampak besar terhadap peningkatan produktivitas petani. Mereka kini dapat mengembangkan berbagai jenis tanaman hortikultura.
“Kami sungguh merasakan uang mengalir setiap hari dengan hadirnya sumur bor. Kami bisa mengusahakan hortikultura. Bahkan, untuk salah satu jenis sayuran yang untuk ukuran kita di Solor mustahil untuk tumbuh. Tetapi puji Tuhan, bahwa bisa tumbuh bahkan bertumbuh subur, yakni wortel. Dan itu luar biasa menurut kami,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di Desa Nuhalolon terdapat dua sumur bor pertanian. Sumur bor pertama dimanfaatkan untuk pengembangan hortikultura, sedangkan sumur bor kedua direncanakan untuk mendukung budidaya jagung hibrida dan jagung manis.
Gius menilai program magang ke Soe telah memberikan banyak pengetahuan baru bagi para petani. Salah satunya mengenai pengendalian hama secara nabati yang kini mulai mereka terapkan di lahan pertanian.
“Sebelum ke Soe, cara pengendalian hamanya itu masih awam. Tetapi setelah dari Soe, pengendalian hamat secara nabati itu kita dapatkan, lalu kita terapkan,” tuturnya.
Ia mengaku sebelumnya petani belum memahami teknik pengendalian hama yang efektif. Setelah mengikuti magang, mereka belajar membuat dan menerapkan pestisida nabati sehingga tanaman dapat tumbuh lebih baik.
Selain itu, para petani juga memperoleh pengetahuan mengenai pola tanam, jarak tanam, persemaian hingga teknik pemupukan yang tepat.
“Iya, berbeda. Lalu cara tanam dengan jaraknya. Lalu persemaiyan. Mulai dari persemaiyan itu juga. Lalu cara untuk pengolahan sih saya rasa bahwa biasa, tetapi cara tanam, lalu bagaimana benih itu bisa bertumbuh baik itu kita mulai dari proses pemupukan sampai pada pengendalian hama,” ungkapnya.
Dari berbagai pengalaman yang diperoleh selama magang, teknik sambung pucuk menjadi hal yang paling berkesan bagi Gius. Namun teknik tersebut belum dapat diterapkan karena ketersediaan terung hutan sebagai batang bawah masih terbatas di wilayah mereka.
Pada Kamis (27/8/2026) siang itu, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen menyambangi para petani di Kawasan tersebut, usai meresmikan sumur bor di Desa Tanah Werang, Kecamatan Solor Timur.
Menjelang sore, suasana di kawasan pertanian semakin hangat. Sambil menikmati kopi bersama para petani, Bupati Flores Timur mendengarkan berbagai cerita dan harapan yang disampaikan para petani.
Di hadapan Bupati, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Yosep Sadi Open, Kepala Dinas PUPR Johanes Brechmans Tukan, Plt Camat Solor Barat Andreas Keban, Kades Nuhalolon Markus Keray, dan para penyuluh pertanian, Mariana Wele Tukan tak kuasa menahan haru.
Sekretaris Kelompok Tani Ole Wura itu tetap melanjutkan ceritanya. Suaranya sesekali tersendat oleh tangis ketika menceritakan perubahan yang mereka alami sejak sumur bor hadir di kawasan tersebut.
“Sebelumnya kami susah mendapatkan uang. Kadang satu bulan kami tidak mendapatkan seribu rupiah pun,” tuturnya.
“Dengan kehadiran sumur boor dan lahan pertanian ini, kami sangat bangga dan berterima kasih kepada Ama Bupati, telah mendukung kami pada lahan yang kering lahan yang berbatu-batu,” lanjut Mariana.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh pertanian yang terus mendampingi petani dalam mengolah lahan pertanian selama ini.
“Dengan dukungnya Ibu Petronela serta rekan-rekan penyuluh, mereka sangat mendukung bagaimana mengolah tanah yang bebatu ini dan dapat menghasilkan tanaman yang subur dan berbuah pada saat ini,” katanya.
Mariana mengungkapkan hasil pertanian mulai dirasakan oleh anggota kelompoknya. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan hasil panen telah dibagikan kepada para anggota.
“Pada saat ini kami di kelompok Ole Wura, kami sudah mendapat hasil penjualan mendekat 11 juta dan kami kami juga sudah bagi hasil, per orang 1 juta,” ujarnya.
“Hanya itu saja, Ama Bupati. Terima kasih banyak. Semoga Tuhan selalu memberkati Ama Bupati. Semoga senantiasa sehat,” tutup Mariana.
Sejak kegiatan pengolahan lahan dimulai pada April 2026, sejumlah kelompok tani mulai menikmati hasil usaha mereka. Kelompok Tani Ole Wura yang beranggotakan 11 orang mencatat pendapatan sekitar Rp11 juta.
Kelompok Tani Besi Pare yang beranggotakan 12 orang memperoleh pendapatan sekitar Rp8 juta. Sementara Kelompok Tani Ema Sare dengan 10 anggota mencatat pendapatan sekitar Rp7,5 juta.
Kelompok Tani Kelabo Doro yang beranggotakan 10 orang memperoleh pendapatan sekitar Rp8 juta. Adapun Kelompok Tani Milenial yang beranggotakan 12 mulai menghasilkan pendapatan sekitar Rp350 ribu. (Tino)


















