LEMBATA, AKSARANEWS.NET – Sebagai upaya pelestarian, pengembangan dan promosi budaya Lamaholot dan sebagai salah satu identitas kearifan lokal masyarakat di wilayah Kabupaten
Lembata, Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Alor.
Pemerintah Kabupaten Lembata menggagas
pelaksanaan Festival Lamaholot sejak tahun 2015 dengan tuan rumah Festival bergantian antar Kabupaten.
Sempat tidak dilaksanakan karena Pandemi Covid-19 beberapa waktu silam dan pada tahun 2023 Pemerintah Kabupaten Lembata menyelenggarakan kembali Festival Lamaholot hingga pada tahun 2024.
Sejak tahun 2024 hingga 2026, Festival Lamaholot terpilih secara berturut-turut selama tiga tahun sebagai salah satu event dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) yang diselenggarakan oleh
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dengan pelaksanaan tahun 2026 direncanakan berlangsung pada tanggal 1–4 Juli 2026.

Festival Internasional Lamaholot 2026 hari pertama diawali pameran UMKM dan Tenun yang diikuti oleh Penenun, Ekraf Lamaholot, Ekraf Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur dan Nagekeo yang berlokasi di ex harnus. Rabu, (01/06/2026).
Adapun tujuan dari Pameran UMKM serta tenun ini adalah sebagai wadah untuk mempertemukan komunitas budaya, pelaku seni, pelaku UMKM, serta masyarakat luas dalam rangka memperkuat hubungan kultural dan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan potensi pariwisata berbasis budaya.
Salas satu pengunjung di acara pameran UMKM dan tenun dalam bagian rangkaian kegiatan festival Lamaholot ini mengatakan senang dan bangga akan kegiatan ini.
“Saya senang dan bangga sekali dengan kegiatan semacam ini, dengan adanya kegiatan pameran dan tenun seperti ini kita bisa tahu kekayaan motif tenun (kain) kita secara meluas,” Ucapnya.
Ia juga berharap bahwa kurangnya minat anak-anak muda dalam melestarikan dan membudayakan tenun akan terbuka hatinya dengan melihat kegiatan yang dilaksanakan ini.
“Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini, anak-anak muda yang datang bisa berpikir untuk tetap menjaga dan melestarikan kebudayaan dan budaya kita. Kalau bukan mereka siapa lagi. Kita kan sudah tua” Tutupnya

















