SOLOR, AKSARNEWS.NET – Air merupakan kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan. Bagi masyarakat Desa Tanah Werang, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, mendapatkan air bersih harus diperjuangkan dalam waktu yang panjang.
Jauh sebelum jaringan perpipaan dan sumur bor hadir, warga mengandalkan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak 1975 hingga1998, masyarakat bergotong royong menggali sumur secara manual demi mendapatkan sumber air yang dapat digunakan bersama.
Perjuangan itu berlangsung lintas generasi. Harapan untuk memperoleh sumber air yang memadai terus hidup, meski berbagai upaya yang dilakukan kerap berhadapan dengan kegagalan.
Sejak 2017 hingga 2026, pencarian sumber air tanah dalam terus dilakukan. Dukungan datang dari Dana Desa, partisipasi masyarakat, baik yang berada di dalam maupun di luar desa, serta berbagai mitra yang turut mengambil bagian dalam perjuangan tersebut.
Selama periode 2017 hingga 2026, total anggaran yang digunakan untuk seluruh proses pengeboran dalam upaya menemukan sumber air bersih mencapai Rp2.837.138.712.
Anggaran tersebut berasal dari berbagai sumber dukungan dan menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang masyarakat Tanah Werang untuk mendapatkan air bersih.
Dukungan antara lain datang dari Anggota DPR RI Ahmad Yohan, Anggota DPRD Flores Timur Hasan Basri, Yayasan Quran Taqwa, Yayasan Du Anyam dan Water House Project, Yayasan Golden Picture, hingga Program SPAM dan Sambungan Rumah Pemerintah Kabupaten Flores Timur.
Menurut perhitungan Kepala Desa Tanah Werang, Abdul Syukur Latif, kebutuhan air masyarakat yang saat itu berjumlah 668 jiwa dipenuhi dengan membeli air bersih seharga Rp35 ribu per drum.
Dengan jumlah sekitar 180 rumah tangga, pengeluaran masyarakat untuk air diperkirakan mencapai Rp6,3 juta setiap hari. Dalam sebulan, jumlah tersebut mencapai sekitar Rp189 juta atau Rp2,268 miliar dalam setahun.
Perjalanan menemukan sumber air tanah dalam ternyata tidak mudah. Dalam kurun waktu sembilan tahun itu, pengeboran dilakukan sebanyak delapan kali.
Pengeboran pertama hingga ketujuh berakhir tanpa hasil yang diharapkan. Setiap kegagalan menghadirkan kekecewaan, tetapi tidak pernah menghentikan niat pemerintah desa dan masyarakat untuk terus mencoba.
Harapan itu akhirnya terjawab pada pengeboran di titik kedelapan. Dari kedalaman tanah ditemukan sumber air yang kini mengalir dan dapat dinikmati warga.
Kesabaran panjang itu dibangun melalui kerja bersama. Pemerintah desa, pemerintah daerah, masyarakat, para perantau, dan berbagai lembaga saling menguatkan dalam proses yang berlangsung bertahun-tahun.
Perjuangan panjang tersebut mencapai satu titik bersejarah ketika Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, meresmikan sumur bor di Desa Tanah Werang, Kamis (27/8/2026).
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Flores Timur, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Flores Timur, Camat Solor Timur, Forkopimca Solor Timur, Kepala Desa Tanah Werang, serta sejumlah kepala desa lainnya.
Hadir juga pihak Yayasan Du Anyam, Yayasan Golden Picture, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, serta berbagai unsur masyarakat yang selama ini ikut mendukung perjuangan menghadirkan air bersih bagi warga.
Peresmian itu sekaligus membawa kembali ingatan tentang perjalanan panjang masyarakat dalam mencari sumber air yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Hari ini bukan sekadar peresmian sebuah fasilitas air bersih. Hari ini adalah momentum untuk merayakan perjuangan panjang masyarakat Desa Tanah Werang dalam memenuhi kebutuhan dasar akan air bersih,” ujar Doni Dihen.
Di hadapan masyarakat, Bupati mengakui bahwa perjuangan yang dilalui Tanah Werang merupakan perjalanan yang sangat berat. Ia menggambarkan proses panjang yang dipenuhi keringat dan air mata hingga akhirnya menghasilkan kebahagiaan yang dirasakan bersama saat ini.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur, kata Doni Dihen, memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat yang tetap bertahan dan terus berusaha meski berkali-kali menghadapi kegagalan.
Menurutnya, tidak banyak komunitas yang mampu menjaga semangat seperti yang ditunjukkan warga Tanah Werang. Ketangguhan itu tumbuh dari keyakinan bahwa setiap persoalan dapat dihadapi selama dilakukan secara gotong royong.
“Saya kira, di balik perayaan peresmian pada hari ini, kita sekaligus merayakan emas di Tanah Werang ini. Emas ketangguhan, emas perjuangan, emas sikap tanpa menyerah, yang tidak dimiliki oleh banyak masyarakat,” kata dia.
Bagi Doni Dihen, kisah Tanah Werang juga menyimpan pelajaran penting yang perlu diwariskan kepada generasi muda tentang arti kegigihan dalam menghadapi tantangan.
Ia menilai ketangguhan merupakan salah satu modal penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Karena itu, cerita perjuangan masyarakat Tanah Werang perlu terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Doni Dihen juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat membantu masyarakat hingga sumber air bersih dapat dinikmati saat ini.
Pemerintah daerah, lanjutnya, masih memiliki tanggung jawab untuk melengkapi kebutuhan pendukung yang berkaitan dengan sistem air bersih di Tanah Werang.
“Tadi di rumah adat juga kami sudah koordinasi, menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk melengkapi urusan air yang ada ini. Tanpa kompromi pemerintah daerah harus melengkapi instalasi dan bak penampung,” kata Doni Dihen.
Selain air bersih, akses jalan menuju Tanah Werang juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Meski pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran di tengah kebijakan efisiensi, kebutuhan tersebut telah masuk dalam catatan pemerintah.
Usai meresmikan sumur bor di Tanah Werang, Kecamatan Solor Timur, Bupati Doni Dihen bersama rombongan melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Solor Barat, tepatnya di Desa Nuhalolon.
Di sana, Bupati menyambangi para petani sekaligus melihat langsung aktivitas pertanian mereka di kawasan Biri yang memanfaatkan satu unit sumur bor. Sumur bor tersebut merupakan salah satu Program Seratus Hari Tahun Anggaran 2025. (Tino)

















