Kupang,11 Mei 2026 – Pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk akademisi. Ahli geothermal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Pri Utami, menegaskan bahwa sistem dalam proyek panas bumi dirancang aman dan tidak mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat.
Menurut Pri, penggunaan air dalam proses pengeboran merupakan bagian dari prosedur teknis yang terukur dan terkendali. Air tersebut dimanfaatkan sebagai fluida pemboran yang dicampur dengan material tertentu untuk membentuk lumpur pemboran, yang berfungsi mendinginkan dan melumasi mata bor, menjaga stabilitas lubang bor, serta menahan tekanan dari dalam tanah.
“Air yang telah dimanfaatkan panasnya akan diinjeksi kembali ke dalam reservoir. Dengan demikian, sistem geothermal bekerja dalam siklus tertutup sehingga tidak mengurangi cadangan air,” ujar Pri Utami.
Ia menjelaskan, sumur panas bumi dibangun dengan standar integritas tinggi dan dilengkapi lapisan pelindung berlapis untuk mencegah potensi kebocoran maupun pencampuran dengan air tanah dangkal yang digunakan masyarakat.
“Sumur geothermal berada pada kedalaman sekitar satu hingga tiga kilometer, jauh di bawah akuifer air tanah yang dimanfaatkan masyarakat. Keduanya tidak boleh dan tidak akan saling terhubung,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pri menyampaikan bahwa pengembangan geothermal juga dapat mendorong pelestarian lingkungan, salah satunya melalui program penghijauan di sekitar wilayah proyek guna menjaga siklus hidrologi tetap berkelanjutan.
“Air hujan yang terserap akan mengisi akuifer dangkal untuk kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan sistem reservoir panas bumi. Ini menjadi bagian penting dari upaya keberlanjutan,” tambahnya.
Ia memastikan, selama pengembangan dilakukan sesuai standar teknis dan kaidah lingkungan yang ketat, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan maupun kualitas air di sekitar wilayah proyek.
Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra), Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa seluruh proses pengembangan geothermal yang dilakukan PLN mengacu pada standar teknis, keselamatan, dan lingkungan yang ketat.
“PLN memastikan setiap tahapan pengembangan panas bumi dilaksanakan secara hati-hati dan bertanggung jawab dengan mengedepankan aspek keselamatan lingkungan serta keberlanjutan sumber daya alam, termasuk perlindungan terhadap sumber air masyarakat,” ujar Rizki.
Ia menambahkan, PLN terus membuka ruang dialog dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi dan masyarakat, guna memastikan pengembangan geothermal dapat memberikan manfaat optimal sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan.

















