ILE APE, AKSARANEWS.NET – Bantuan sumur bor yang seharusnya menjadi solusi krisis air bersih di Desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, justru dikeluhkan warga. Bukan karena airnya tidak ada, tapi karena harganya tidak terjangkau.
Warga harus membayar Rp 5.000 untuk setiap drum air. Bagi masyarakat Tagawiti yang berpenghasilan pas-pasan, harga itu dinilai cukup mahal dan memberatkan.
Padahal, sumur bor seharusnya hadir sebagai bantuan. Bukan menjadi beban baru.
Pada dasarnya, bantuan sumur bor sangat bermanfaat dan menjadi solusi krusial bagi masyarakat. Terutama di wilayah seperti Tagawiti yang sering dilanda kekeringan dan kesulitan akses air bersih bukan dijadikan sebagai bisnis.
Berbagai program bantuan sumur dari pemerintah, TNI/Polri, swasta, maupun lembaga sosial di banyak daerah terbukti memberikan dampak positif langsung. Warga bisa mendapatkan air untuk minum, memasak, mandi, hingga bertani.
Tapi apa artinya bantuan jika warga tetap harus merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk mendapatkan air?
Di Tagawiti, bantuan itu terasa tidak bermanfaat. Air ada, tapi tidak semua warga bisa menikmati. Yang punya uang bisa beli, yang tidak punya uang terpaksa kembali mencari sumber air lama yang jauh dan tidak layak.
Menurut salah satu Warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan Kami Butuh Air, Bukan Beban Baru
“Bagi warga berpenghasilan tidak seberapa, Rp 5.000 per drum bukan angka kecil. Jika dalam sehari sebuah keluarga butuh 2 sampai 3 drum, maka dalam sebulan mereka harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah hanya untuk air,” ucapnya.
Padahal air adalah kebutuhan dasar. Bantuan seharusnya meringankan, bukan menambah pengeluaran.
Warga berharap pemerintah desa dan pihak pemberi bantuan turun tangan. Perlu kejelasan: apakah sumur bor ini bantuan murni untuk masyarakat, atau dikelola dengan sistem iuran yang memberatkan?
Jika memang ada biaya operasional, harus transparan. Berapa biaya listrik? Berapa biaya perawatan? Siapa yang mengelola? Dan kenapa harganya sampai Rp 5.000 per drum?
Kisah Tagawiti menjadi pengingat penting. Banyak program bantuan gagal bukan karena barangnya tidak ada, tapi karena pengelolaannya tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Sumur bor sudah dibor. Air sudah keluar. Tinggal satu pertanyaan yang belum dijawab: untuk siapa sumur ini dibangun? Untuk masyarakat, atau untuk segelintir pengelola?
Pemerintah Kabupaten Lembata dan pihak pemberi bantuan diminta segera mengevaluasi pengelolaan sumur bor di Tagawiti. Jangan sampai program yang niatnya baik justru membuat warga semakin sulit mendapatkan air bersih.
Karena di Tagawiti, warga tidak minta yang mewah. Mereka hanya minta air yang bisa diakses dengan harga yang wajar, bahkan gratis, sesuai dengan nama programnya “bantuan”.

















