LARANTUKA, AKSARANEWS.NET – Program Future School Pemerintah Kabupaten Flores Timur, mulai membawa perubahan dalam cara guru mengajar dan berinteraksi dengan siswa di ruang kelas.
Penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara bergantian menjadi pengalaman baru bagi guru dan peserta didik. Prosesnya berlangsung melalui penyesuaian metode mengajar, latihan, serta keberanian mencoba.
Salah satu sekolah yang menerapkan program ini sejak diluncurkan pada 23 Juli 2025 adalah SMPK St. Isidorus Lewotala, Kecamatan Lewolema.
Sekolah ini termasuk dalam 10 sekolah yang telah melaksanakan program Future School. Pembelajaran bilingual diterapkan pada seluruh mata pelajaran dan enam rombongan belajar dengan total 114 siswa.
Future School merupakan bagian dari agenda Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang termaktub dalam RPJMD 2025–2030 di bawah kepemimpinan Bupati Anton Doni Dihen dan Wakil Bupati Ignas Boli Uran.
Pada tahap awal, program ini menyasar jenjang SD dan SMP sebagai upaya pengembangan kualitas pendidikan. Jumlah sekolah pelaksana direncanakan terus bertambah.
Di SMPK St. Isidorus Lewotala, penerapan dua bahasa menghadirkan tantangan tersendiri bagi guru. Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik dan kebutuhan penyampaian materi yang berbeda.
Guru mata pelajaran IPA, Maria Magdalena Keray, misalnya, perlu memastikan penggunaan bahasa Inggris tidak mengaburkan pemahaman siswa terhadap konsep sains yang cukup abstrak.
Ia biasanya menggunakan bahasa Indonesia untuk memberikan pemahaman awal, mengarahkan diskusi, dan menyusun kesimpulan pembelajaran.
Sementara bahasa Inggris lebih banyak digunakan ketika memberikan instruksi, mengarahkan praktik, atau memulai kegiatan diskusi.
Dalam lembar kerja peserta didik (LKPD), Maria juga mulai mencantumkan istilah dalam dua bahasa, termasuk nama-nama organ tubuh.
Pada awal penerapan Future School, ia mengamati siswa lebih banyak diam ketika pembelajaran menggunakan dua bahasa.
“Awalnya anak-anak lebih banyak diamnya karena merasa asing, karena baru pertama kali,” ungkapnya saat diwawancarai di ruang kelas, Jumat (6/11/2026).
Untuk mengatasi situasi tersebut, Maria mencoba mencari strategi agar siswa lebih aktif. Salah satunya melalui permainan yang menyisipkan kosakata bahasa Inggris.
Dengan cara itu, siswa mulai tertarik mencari tahu arti kata-kata yang digunakan dalam permainan.
“Jadi, dengan sendirinya mereka berantusias untuk tahu, oh ini artinya apa, kemarin kita belajar itu seperti apa, artinya apa, kita cari. Seperti itu,” katanya.
Ia juga menggunakan hasil penilaian setelah pembelajaran satu pokok bahasan untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi.
Menurut Maria, penggunaan dua bahasa sejauh ini tidak menghambat pemahaman siswa. Siswa lebih mudah mengikuti pelajaran ketika penjelasan disampaikan dengan bahasa yang mereka pahami.
Pengalaman berbeda disampaikan guru mata pelajaran Agama Katolik, Maria Nini Sogen. Baginya, penggunaan bahasa Inggris perlu tetap memperhatikan kedalaman pemahaman siswa terhadap materi iman.
Ia menggunakan bahasa Indonesia pada bagian pendalaman Kitab Suci dan ajaran-ajaran Kitab Suci agar siswa memahami materi secara utuh.
“Kenapa? Karena saya ingin memastikan murid mengerti penuh, mengerti secara utuh materi yang sedang mereka pelajari,” jelasnya.
Dalam kegiatan doa dan renungan, siswa juga mulai menggunakan dua bahasa. Menurut Maria, kebiasaan ini menjadi pengalaman baru untuk memperkaya kemampuan komunikasi mereka.
Namun, ia tetap memperhatikan pemahaman siswa terhadap isi doa dan renungan yang disusun.
Sebelum siswa membacakan doa atau renungan, ia terlebih dahulu menanyakan makna dan isi yang ingin disampaikan.
Untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi, Maria juga memberikan kesempatan kepada mereka menjelaskan kembali pelajaran melalui sesi refleksi.
“Bukan hanya sekadar mereka menghafal bahasa Inggris, tetapi mereka juga mampu menerapkan nilai-nilai moral yang mereka pelajari dalam pelajaran,” tuturnya.
Penerapan Future School juga membuat para guru terus berupaya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka.
Maria mengakui program ini membuat dirinya terpacu untuk belajar kembali, terutama setelah sekolah mulai menerapkan pembelajaran bilingual.
Guru Bahasa Indonesia, Lusia Lito Ruron, mengakui penggunaan dua bahasa dalam mata pelajarannya masih lebih banyak pada bagian pembuka dan instruksi.
Dalam diskusi, presentasi, serta penyampaian pendapat, siswa masih menggunakan bahasa Indonesia agar dapat mengembangkan gagasan dengan baik.
Ia juga berusaha menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan sekitar. Ketika mengajarkan teks deskripsi, misalnya, ia menggunakan objek yang dekat dengan kehidupan siswa di Kecamatan Lewolema.
“Misalnya Pantai Kawaliwu atau Pasar Oka sehingga siswa itu mereka sudah bisa langsung melihat objek yang dideskripsikan,” jelasnya.
Lusia mengatakan sebelum Future School diterapkan, pembelajaran berlangsung sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia.
Kini, ia bersama guru lainnya mulai berusaha menggunakan dua bahasa, meskipun penerapannya masih menyesuaikan kemampuan masing-masing.
Sementara itu, guru Bahasa Inggris, Yuliana Bunga, lebih banyak memberikan perhatian pada keberanian siswa menggunakan bahasa Inggris.
Menurut dia, salah satu kesulitan dalam pembelajaran bahasa asing adalah rasa takut siswa melakukan kesalahan pengucapan dan ditertawakan teman-temannya.
Untuk mengatasinya, ia membangun suasana belajar yang aman, nyaman, dan menarik tanpa menuntut kesempurnaan sejak awal.
Latihan dimulai dari kelompok terkecil, seperti bersama teman sebangku, kemudian berkembang ke kelompok diskusi hingga presentasi di depan kelas.
Dalam kegiatan storytelling, pidato, dan pembacaan puisi, Yuliana juga memberikan ruang bagi siswa untuk terus berlatih.
Ia mengakui storytelling menjadi kegiatan paling sulit dilatih karena membutuhkan beberapa kemampuan yang harus dikuasai secara bersamaan.
Sementara pidato lebih menekankan kejelasan argumen dan pengucapan. Pembacaan puisi membutuhkan penghayatan, pengaturan emosi, dan intonasi.
“Jadi untuk berbuat salah itu salah satu proses. Jadi saya tidak menuntut kesempurnaan,” ujarnya.
Setelah program bilingual diterapkan, Yuliana mulai melihat perubahan dalam respons siswa selama pembelajaran.
Mereka mulai mampu menjawab pertanyaan, merespons instruksi, berbicara menggunakan kalimat sederhana dengan teman, hingga menyampaikan pendapat dalam diskusi.
“Terus kemudian menyampaikan pendapatnya pada saat diskusi bahkan mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Itu yang saya amati selama ini,” ungkapnya.
Perubahan tersebut memperlihatkan proses adaptasi yang sedang berlangsung di SMPK St. Isidorus Lewotala.
Guru terus belajar menyesuaikan metode pembelajaran, sementara siswa mulai membangun keberanian menggunakan bahasa Inggris.
Bagi para guru, tantangan berikutnya adalah menjaga agar kemampuan berbahasa berkembang seiring dengan pemahaman siswa terhadap materi setiap mata pelajaran. (Tino)

















