LARANTUKA, AKSARANEWS.NET – Ramai Sekali. Selama tiga hari, 29–31 Oktober 2026, Lapangan Lebao, Larantuka, menjadi momentum berkumpulnya insan pendidikan dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur dalam Pameran Pendidikan 2026.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) mengemas kegiatan ini dengan tema “Insan Pembelajar Merawat Budaya, Bertumbuh dalam Inovasi, Membangun Generasi Masa Depan”.
Ada banyak hal menarik yang dijumpai. Mulai dari hasil karya siswa, kreativitas mengolah barang bekas dan pangan lokal, berbagai kerajinan tangan, media pembelajaran berbasis teknologi, absensi digital, mading 3D, hingga kemampuan berbahasa Inggris melalui lomba debat dan baca puisi.
Berjalan dari satu stan ke stan lainnya, pengunjung disuguhi beragam kreativitas. Ada anyaman daun lontar, pajangan kain tenun, peragaan menenun, hingga praktik menumbuk padi secara tradisional menggunakan alu dan lesung yang diperagakan para siswa. Masih banyak hal menarik lainnya.
Hal lain yang tak kalah menarik adalah cara siswa menjelaskan hasil kreativitas mereka. Mereka begitu fasih dan percaya diri ketika memperkenalkan produk, menjawab pertanyaan, serta menerangkan proses pembuatan kepada pengunjung stan, termasuk saat diwawancarai media.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pameran ini memberikan gambaran tentang bagaimana anak-anak sedang belajar mengambil peran. Mereka tidak hanya membuat sesuatu, tetapi juga belajar mengomunikasikan gagasan dan mempertanggungjawabkan hasil karyanya.
Akan tetapi, jika pameran ini hanya dilihat sebagai tempat memajang hasil karya dan menyelenggarakan berbagai perlombaan, rasanya ada tujuan yang lebih besar yang patut dibaca dari kegiatan ini.
Pameran ini sesungguhnya sedang menawarkan cara lain untuk melihat pendidikan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat guru mengajar dan siswa menerima pelajaran, tetapi juga ruang untuk mencoba, berani tampil, berkompetisi, dan saling belajar.
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, dalam sambutan pembukaan pameran menaruh perhatian besar pada arah perubahan tersebut. Ia sangat konsen terhadap dunia pendidikan, salah satunya melalui program unggulan Future School yang telah berjalan sejak 2025.
Program ini berorientasi pada pengembangan kompetensi masa depan. Pada 2025, terdapat enam sekolah sasaran, kemudian meningkat menjadi 10 sekolah pada 2026. Dan pastinya akan terus bertambah jumlahnya.
Bupati melihat ada sesuatu yang menarik dari pelaksanaan Future School. Anak-anak yang sebelumnya mungkin saja merasa kesulitan tampil di depan umum, mulai menunjukkan keberanian melalui festival dan berbagai kegiatan pembelajaran.
Ia juga sempat menceritakan pengalamannya menyaksikan festival di SMP Katolik St. Isidorus Lewotala, Kecamatan Lewolema, SMPN Satap Lamawolo, Kecamatan Adonara Barat, dan SD Inpres Bungalawan, Kecamatan Ileboleng.
Baginya, ada satu temuan penting dari ketiga festival tersebut. Festival dapat menjadi metode pembelajaran yang efektif untuk mengaktualisasikan potensi serta menumbuhkan perubahan positif dalam diri peserta didik.
Anak-anak diberi kesempatan tampil. Guru ikut terpacu untuk menyiapkan pembelajaran yang lebih kreatif. Bahkan, siswa yang biasanya kurang percaya diri mendapat ruang untuk menunjukkan kemampuannya.
Di sinilah pameran pendidikan menemukan relevansinya. Kegiatan ini dapat menjadi panggung untuk mengkapitalisasi potensi yang selama ini tumbuh di ruang-ruang kelas, termasuk sekolah-sekolah yang berada jauh di pelosok kampung.
Tentu, panggung seperti ini tidak boleh hanya dinikmati oleh beberapa siswa yang memang sudah memiliki kemampuan menonjol. Tantangannya adalah bagaimana setiap anak mendapat kesempatan untuk berkembang.
Bupati juga menekankan pentingnya lima kompetensi atau 5C, yakni critical thinking, creativity, communication, collaboration, dan confidence.
Lima kompetensi ini menjadi bekal yang harus disiapkan sejak sekarang. Apalagi, generasi muda Flores Timur kelak akan menghadapi persaingan yang semakin luas dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu perhatian dalam Future School. Bupati mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mengejar kemampuan akademik. Keterampilan sosial, kreativitas, keberanian, dan kepercayaan diri juga mesti mendapat tempat.
Dalam acara penutupan, Sabtu (31/10/2026), Bupati kembali mengajak insan pendidikan melihat hubungan modernitas dan kebudayaan. Ia menguraikan penjelasan dengan sangat gamblang, runtut, dan penuh semangat.
Tema pameran tahun ini memang membawa semangat inovasi. Namun, pendidikan yang bergerak maju seyogianya tetap berpijak pada akar budaya Lamaholot.
Lomba cerita rakyat berbahasa daerah dan berbagai karya yang dipajang di stan sekolah menjadi salah satu momen penting untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda.
Bupati mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan benda, kesenian, atau ekspresi yang bisa dipertontonkan. Ada nilai-nilai yang hidup di dalamnya dan harus diwariskan kepada anak-anak.
Pesan ini penting. Anak-anak Flores Timur harus memiliki kemampuan menghadapi dunia modern tanpa kehilangan pengetahuan tentang asal-usul dan kebudayaannya sendiri.
Sementara itu, Kepala Dinas PKO Flores Timur, Felix Suban Hoda, melihat pameran sebagai ruang belajar bersama bagi siswa dan guru. Pertemuan peserta didik dari berbagai kecamatan memungkinkan mereka saling mengenal kemampuan dan kreativitas.
Guru pun memiliki kesempatan serupa. Mereka dapat melihat praktik pembelajaran dari sekolah lain, kemudian membawa pengalaman tersebut untuk memperbaiki proses belajar di satuan pendidikan masing-masing.
Pameran ini tidak hanya menyediakan panggung kompetisi. Ada proses pertukaran pengalaman yang semestinya berlanjut setelah seluruh stan dibongkar dan perlombaan selesai.
Menurut Felix, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah konsistensi pembelajaran bahasa Inggris. Siswa tidak hanya belajar tentang bahasa, tetapi juga belajar menggunakan bahasa dalam komunikasi sehari-hari.
Praktiknya dimulai dari kegiatan sederhana. Guru dan siswa menggunakan bahasa Inggris saat memberikan sapaan pada pagi hari, membuka pembelajaran, hingga berkomunikasi dalam kegiatan belajar.
Pola seperti ini membutuhkan kebiasaan. Kemampuan berbahasa tidak akan tumbuh hanya dengan mengandalkan perlombaan atau latihan menjelang pameran.
Dinas PKO juga ingin agar festival tidak hanya berlangsung di tingkat kabupaten. Sekolah didorong mengadakan festival di setiap kelas, kemudian berkembang ke tingkat gugus, hingga akhirnya menjadi bagian dari Pameran Pendidikan Kabupaten Flores Timur.
Gagasan tersebut patut disambut baik. Dengan pola berjenjang, lebih banyak siswa berkesempatan tampil dan mengasah kemampuan. Kompetisi pun tumbuh dari lingkungan belajar yang paling dekat dengan mereka.
Barangkali, inilah salah satu tujuan strategis yang ingin dicapai pemerintah daerah melalui pameran pendidikan, membangun budaya belajar yang hidup, kompetitif, dan terus berkembang di setiap sekolah.
Meski begitu, kegiatan tahunan seperti ini harus diikuti evaluasi yang serius. Hasil pameran seyogianya tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan atau catatan prestasi para pemenang semata.
Sekolah harus melihat kembali apa yang sudah berkembang, apa yang masih kurang, dan bagaimana praktik baik yang ditemukan dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.
Bupati sendiri telah menyampaikan rencana penguatan anggaran pendidikan nonfisik pada 2027. Perhatian diarahkan kepada peningkatan kompetensi guru dan pengawas, serta menghidupkan kembali wadah profesional seperti MGMP dan MKKS.
Patut didukung, agar semangat transformasi tidak hanya dibebankan kepada siswa. Guru juga harus terus belajar, memperbarui pengetahuan, dan berani mencoba pendekatan pembelajaran yang lebih kreatif.
Keberhasilan Pameran Pendidikan Flores Timur 2026 tidak cukup diukur dari ramainya pengunjung, banyaknya stan, euforia kemenangan dalam perlombaan, atau siapa yang membawa pulang penghargaan.
Lalu apa? Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi setelah kegiatan berakhir. Apakah siswa semakin percaya diri? Apakah guru semakin kreatif? Apakah sekolah semakin terbuka terhadap inovasi dan praktik baik?
Jika semangat pameran mampu dibawa kembali ke ruang kelas, kegiatan ini akan memiliki arti yang jauh lebih luas. Pendidikan tidak lagi bergerak hanya ketika ada perlombaan atau festival, tetapi tumbuh sebagai kebiasaan setiap hari.
Flores Timur tentu membutuhkan generasi yang cakap secara akademik, menguasai teknologi, mampu berkomunikasi, dan memiliki daya saing. Tetapi mereka juga harus mengenal budaya serta memiliki keyakinan terhadap kemampuan sendiri.
Pameran Pendidikan telah menyediakan ruang untuk memulai dan memacu semua itu. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan semangat tersebut tetap hidup di sekolah-sekolah, dari pusat kota hingga pelosok desa.
Masa depan pendidikan Flores Timur tidak ditentukan oleh tiga hari pameran, tetapi oleh konsistensi guru, pemerintah, masyarakat, dan peserta didik dalam bekerja sama memajukan pendidikan setelah kegiatan ini berakhir.
Penulis : Tino Watowuan
Editor : Redaksi

















