LARANTUKA, AKSARANEWS.NET – Setiap pagi, siswa SMPK St. Isidorus Lewotala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, memulai aktivitas sekolah dengan doa berbahasa Inggris.
Kebiasaan itu menjadi bagian dari perubahan budaya belajar sejak sekolah tersebut menerapkan Program Future School Pemerintah Kabupaten Flores Timur.
Pada hari Senin, penggunaan bahasa Inggris juga diterapkan dalam kegiatan apel pagi. Dua kebiasaan ini menjadi salah satu bentuk penerapan pembelajaran bilingual di lingkungan sekolah.
Wakil Kepala SMPK St. Isidorus Lewotala, Petrus Paulus Puru Tukan, yang akrab disapa Paul Tukan, mengatakan sekolah mulai bergerak dari penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP).

Dalam penyusunannya, pihak sekolah bersama kepala sekolah dan para pengawas mengintegrasikan penggunaan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ke dalam aktivitas pembelajaran.
Sejak program Future School diluncurkan, SMPK St. Isidorus Lewotala menerapkan pembelajaran bilingual pada semua mata pelajaran dan seluruh kelas atau rombongan belajar (rombel).
Penerapan tersebut mencakup enam rombel dengan total 114 siswa. Integrasi dua bahasa dilakukan dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
“Kasih contoh saja di intrakurikuler, itu juga kita mau supaya semua guru dalam merancang pembelajaran itu melibatkan dua bahasa ini, dan juga ekstrakurikuler atau pun juga kokurikuler,” jelas Paul saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (6/11/2026).
Meski belum semua guru menggunakan bahasa Inggris secara penuh, integrasi dua bahasa sudah masuk dalam rancangan pembelajaran dan mulai diterapkan di kelas.
Menurut Paul, guru-guru telah mulai menerapkan pendekatan tersebut sesuai kebutuhan mata pelajaran masing-masing.
Ia mengakui, kehadiran Future School membawa penyesuaian baru bagi sekolah yang sebelumnya telah menjalankan program pendidikan dengan kurikulum yang ada.
Namun, tantangan yang paling terasa justru berkaitan dengan pola pikir warga sekolah dalam memahami arah dan tujuan program tersebut.
“Tantangan terbesar, menurut saya, lebih pada mindset. Kita harus memahami dulu program Future School. Itu tantangannya,” ungkapnya.
Paul menilai, persoalan sarana pendukung, pembiayaan, hingga ketersediaan buku tetap perlu diperhatikan. Berbagai kebutuhan itu dapat diupayakan ketika semua pihak memahami harapan yang ingin dicapai melalui Future School.
Perubahan itu tidak hanya terlihat dari aktivitas guru. Di halaman sekolah, sejumlah siswa juga menceritakan pengalaman mereka selama mengikuti pembelajaran bilingual.
Maria Oktaviana Liwun, siswi kelas 9, mengaku awalnya kesulitan memahami bahasa Inggris ketika guru mulai menggunakannya dalam pembelajaran.
“Pada awal, pada saat guru mereka masuk ke dalam kelas dan berbicara menggunakan bahasa Inggris, kami kurang mengerti,” tuturnya.
Namun, setelah program Future School berjalan, ia mulai merasakan perubahan dalam memahami bahasa Inggris yang digunakan guru.
“Dan sekarang, setelah program Future School ini dijalankan, sekarang kami agak sedikit paham ketika guru berbicara menggunakan bahasa Inggris,” lanjut Maria.
Pengalaman berbeda diceritakan Antonia Kewa Hewen, siswi kelas 9. Ia mengaku pernah melakukan kesalahan ketika berbicara bahasa Inggris di depan teman-teman maupun guru.
Baginya, pengalaman ditertawakan karena salah berbicara tidak harus membuat seseorang kehilangan keberanian untuk belajar.
“Saat saya berbicara bahasa Inggris di depan teman-teman ataupun di depan Bapak/Ibu guru, kadang saya salah berbicara dan ditertawakan,” ungkap Antonia.
“Tetapi, saya bukan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang membuat saya bisa tersendat atau bisa berhenti dalam belajar bahasa Inggris. Saya menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk bisa lebih mahir lagi belajar bahasa Inggris,” imbuh dia.
Sementara itu, Damian De Veuster Ruron siswa kelas 7, mulai menghubungkan kemampuan berbahasa Inggris dengan cita-cita dan bayangannya tentang masa depan.
Ia berharap kemampuan tersebut dapat membantunya memperoleh kesempatan bekerja di luar negeri.
“Setelah bisa belajar, bisa omong bahasa Inggris, yang saya pikirkan di masa depan itu saya bisa bekerja di luar negeri,” kata Damian.
Ia juga berharap semakin banyak siswa di Flores Timur yang giat belajar menggunakan bahasa Inggris.
“Semoga setiap sekolah lebih banyak anak yang giat belajar berbahasa Inggris, supaya bisa omong bahasa Inggris,” tambahnya.
Bagi Paul Tukan, keterlibatan siswa dalam berbagai aktivitas berbahasa Inggris menjadi salah satu ukuran perkembangan Future School di sekolahnya.
Ia menyebut, siswa sudah mulai mengikuti lomba debat, menjadi presenter, hingga berkomunikasi dalam kegiatan Bulan Bahasa.
“Mereka bisa menjadi presenter, menjadi pendebat, dan percaya diri dalam berbagai aktivitas saat menyampaikan sesuatu menggunakan bilingual,” katanya.
SMPK St. Isidorus Lewotala merupakan satu dari sepuluh sekolah di Flores Timur yang sudah menerapkan Future School sejak program tersebut diluncurkan pada 23 Juli 2025.
Program ini menjadi bagian dari agenda Pemerintah Kabupaten Flores Timur dalam RPJMD 2025–2030 di bawah kepemimpinan Bupati Anton Doni Dihen dan Wakil Bupati Ignas Boli Uran.
Pada tahap awal, program Future School menyasar jenjang SD dan SMP sebagai bagian dari upaya pengembangan kualitas pendidikan di Flores Timur. Ke depan, jumlah sekolah yang menerapkan program ini akan terus ditingkatkan. (Tino)

















