ADONARA, AKSARANEWS.NET – Senin, 10 Agustus 2026, menjadi momen penting dan bersejarah dalam proses rekonsiliasi perdamaian pascakonflik sosial antara Bele, Desa Waiburak dan Lewonara, Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Paroki Kristus Raja, Waiwerang, itu menjadi momentum peneguhan komitmen kedua belah pihak untuk mengakhiri permusuhan, membangun komunikasi yang baik, menjaga keamanan, serta menciptakan keharmonisan di tengah masyarakat.
Komitmen tersebut ditandai dengan penyerahan senjata dan alat tajam dari kedua belah pihak kepada pihak kepolisian. Penyerahan itu menjadi wujud kesepakatan bersama untuk mengakhiri kekerasan dan permusuhan serta menempuh jalan damai dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Rekonsiliasi diperkuat melalui pembacaan komitmen damai dan penandatanganan berita acara sebagai bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
Rangkaian rekonsiliasi juga dikukuhkan dengan ritual adat 𝐵𝑎𝑢 𝐿𝑜𝑙𝑜𝑛. Ritual tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap nilai-nilai adat serta peneguhan komitmen bersama dalam proses menuju perdamaian yang lebih menyeluruh.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur, Ketua DPRD Flores Timur, Wakil Gubernur NTT, Wakapolda NTT, Kapolres Flores Timur, Dandim, Kepala Kanwil HAM NTT, dan, Kepala Kesbangpol NTT.
Hadir pula Kepala Pelaksana BPBD NTT, Kadis PUPR NTT, tokoh adat, tokoh masyarakat, Kepala Desa Narasaosina dan Kepala Desa Waiburak, pemangku kepentingan lainnya, serta berbagai unsur masyarakat.
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, mengapresiasi kebesaran jiwa kedua belah pihak yang telah memilih jalan damai dan menyerahkan senjata yang berkaitan dengan konflik sosial.
“Pertama kita bersyukur hari ini ya, langkah besar, langkah bersejarah, kita anggap hari ini hari berahmat yang patut kita syukuri karena kedua belah pihak sudah mampu menunjukkan kebesaran jiwa mereka untuk maju ke komitmen damai, melepas segala alat senjata-senjata konflik sosial yang ada dan dikukuhkan melalui acara adat ini,” ujarnya.
Bupati Doni Dihen berharap momentum tersebut mampu membuka ruang hati yang lebih luas bagi kedua belah pihak untuk menemukan jalan damai menuju penyelesaian konflik secara tuntas.
“Ada banyak cara untuk sampai kepada ketuntasan ini. Tapi kita berharap acara hari ini juga bisa membuka ruang hati yang lebih luas sehingga ditemukan cara damai untuk ketuntasan proses perdamaian yang ada ini,” harap Doni Dihen.
Ia mengakui bahwa proses menuju perdamaian secara menyeluruh membutuhkan waktu dan tidak mudah, terutama karena terdapat berbagai urusan adat yang harus dihadapi. Meski demikian, ia tetap optimistis bahwa jalan menuju perdamaian telah terbuka.
“Kita tidak tahu akan membutuhkan waktu berapa lama, tentu saja kita tahu bahwa secara adat akan mengalami kita hadapi kepelikan-kepelikan yang ada, tapi hari ini kita sungguh optimis bahwa langkah itu, jalan itu sudah terbuka untuk ketuntasan perdamaian di antara mereka,” ungkapnya.
Ia menyebut tahapan dan proses mediasi sebelumnya telah dilakukan melalui Tim 9 yang dibentuk saat sarasehan di Desa Horinara. Tim tersebut kemudian diperluas dengan melibatkan para pemangku adat yang turut mendoakan serta membangun komunikasi di antara kedua belah pihak.
“Demikian pula tim dari internal kepolisian. Ada anak-anak kita di kepolisian, anak Lewotana yang selama ini juga sangat intensif bekerja untuk memediasi hubungan antara kedua belah pihak ini,” imbuh dia.
Bupati Doni Dihen menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras membangun komunikasi yang baik dan menciptakan suasana hati yang damai hingga terlaksananya rekonsiliasi antara kedua belah pihak.
“Mudah-mudahan kerja keras mereka untuk kedamaian sampai pada puncak hari ini mendapat timpalan berkah dari yang di atas. Kita sungguh-sungguh terima kasih,” tandasnya. (Tino)

















