LEMBATA, AKSARANEWS.NET – Santri Pondok Pesantren Al Fatah yang berlokasi di Desa Waowala, Kabupaten Lembata, menampilkan keunikan tersendiri dalam safari Ramadhan di Masjid Al Muhajirin Babokerong, Selasa (3/3/2026),
Para santri tersebut melakukan tausiyah dalam tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab. Inovasi ini menjadi ajang penguatan keterampilan bahasa sekaligus memperkaya suasana keagamaan.
Jamaah yang hadir tampak terpukau menyimak penyampaian materi yang lugas, sistematis, dan penuh makna.
Dalam tausiyahnya, para santri mengupas makna puasa berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan ketakwaan. Ramadhan menjadi momentum memperbaiki diri, memperbanyak membaca Al-Qur’an, meningkatkan kepedulian sosial dengan berbagi makanan berbuka, serta memperkuat ibadah melalui i’tikaf di masjid.
Kepala Madrasah Pondok Pesantren Al Fatah Lembata, Ustadz Hafid Nai, menjelaskan bahwa kemampuan santri berdakwah dalam tiga bahasa merupakan bagian dari sistem pendidikan terpadu yang diterapkan di pesantren.
“Program pertama dan utama kami adalah program keagamaan, khususnya pembelajaran Al-Qur’an. Itu menjadi prioritas karena fondasi pendidikan di pesantren adalah mencetak penjaga-penjaga kalamullah di wilayah timur Indonesia,” ujarnya.
Selain program utama tersebut, pesantren juga memiliki program unggulan kedua, yakni Nahwu Shorof. Nahwu Shorof merupakan pelajaran dasar bahasa Arab yang menjadi kunci memahami struktur dan perubahan kata dalam bahasa Arab. Melalui pelajaran ini, santri dilatih agar mampu membaca kitab kuning atau kitab gundul (tanpa harakat), serta memahami makna dan kaidah yang terkandung di dalamnya.
Menurut Ustadz Hafid Nai, penguasaan Nahwu Shorof menjadi fondasi penting sebelum santri melangkah lebih jauh pada pembelajaran tafsir dan pendalaman kitab-kitab klasik. Meski sebagian besar santri masih berada di jenjang SMP, pembelajaran diberikan secara bertahap dan terstruktur.
Meski menitikberatkan pada pendidikan agama, Ponpes Al Fatah Lembata tetap menjalankan kurikulum umum secara berkelanjutan. Santri mendapatkan mata pelajaran Akidah, Akhlak, Fikih, Al-Qur’an Hadis, Sejarah Peradaban Islam, serta pelajaran umum seperti IPS, IPA, PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Seni Budaya, hingga Pendidikan Jasmani (PJOK).
Penguatan bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia menjadi ciri khas pesantren ini sebagai bekal dakwah dan komunikasi yang lebih luas.
“Dengan sistem pendidikan terpadu tersebut, kami berharap lahir generasi santri yang religius, berilmu, dan siap berkontribusi bagi umat dan bangsa,” pungkas Ustadz Hafid Nai. Tim



















