LARANTUKA, AKSARANEWS.NET – Judi online menjadi salah satu persoalan yang disoroti orang muda Flores Timur dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Organisasi Pemuda Kabupaten Flores Timur, Senin (26/10/2026).
Persoalan itu mencuat setelah Magdalena Rianghepat selaku pemandu Focus Group Discussion (FGD) mengajukan sebuah pertanyaan reflektif kepada peserta yang mengikuti kegiatan di Hotel Sunrise, Larantuka.
“Kalau Anda sebagai orang muda Flores Timur punya satu kesempatan mengubah satu hal di daerah ini, apa yang ingin diubah?” demikian pertanyan yang diajukan.
Pertanyaan tersebut memantik beragam tanggapan. Aldo, salah seorang peserta, memilih menyoroti pola pikir anak muda yang menurutnya masih mudah tergiur dengan judi online.
Ia menilai perubahan itu harus dimulai dari cara berpikir generasi muda yang, menurutnya, masih berada dalam kondisi yang kurang baik.
“Karena dilihat dari realitas sekarang, anak muda itu sering tergiur dengan yang namanya judi online,” ujarnya.
Ia bahkan menceritakan pengalaman di desanya, ketika seorang anak muda kehilangan bantuan dari desa setelah kedapatan bermain judi online.
“Kalau di tempat saya tinggal sekarang, pernah kepala desa memutuskan bantuan kepada salah satu anak muda karena kedapatan bermain judi online,” bebernya.
Aldo menawarkan edukasi atau sosialisasi mengenai dampak buruk judi online sebagai salah satu upaya untuk membangun kesadaran generasi muda.
Selain persoalan judi online, pertanyaan reflektif itu juga memunculkan pandangan tentang nasib petani dan kepekaan generasi muda terhadap daerahnya sendiri.
Yulius Suban Mengu menilai petani merupakan salah satu penyangga penting bagi kemajuan daerah. Menurutnya, ekosistem usaha pertanian perlu dibangun agar petani di desa merasa pekerjaan mereka memiliki nilai.
Ekosistem usaha pertanian, kata dia, perlu dibangun agar petani di desa merasa pekerjaan yang mereka lakukan memiliki nilai dan tidak dipandang sebelah mata.
“Bagaimana mengangkat petani yang ada di desa. Itu untuk dia bisa merasa bahwa apa yang dilakukannya itu tidak remeh,” ujarnya.
Sementara itu, Somi Sili menyoroti kepekaan generasi muda, khususnya pelajar dan mahasiswa terhadap Lewotana Flores Timur.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada ijazah dan pekerjaan, tetapi juga membentuk anak muda menciptakan lapangan kerja. Sikap dan pola pikir generasi muda menjadi hal yang perlu diubah.
Somi juga mengharapkan dukungan pemerintah terhadap orang muda dapat diwujudkan dalam langkah nyata, bukan sebatas kegiatan seremonial.
“Harapannya bukan hanya seremonial semata, tapi ada tindak lanjut,” tegasnya.
Tiga persoalan tersebut, bersama sejumlah pandangan lainnya mengemuka sebelum peserta memasuki sesi diskusi kelompok untuk mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi bagi pengembangan kepemudaan serta pembangunan Flores Timur.
Dalam sesi diskusi, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok dengan fokus pembahasan berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan persoalan dan kehidupan orang muda di Flores Timur.
Kelompok pertama membahas ekonomi pemuda dan lapangan kerja. Kelompok kedua mendiskusikan kesehatan, pergaulan, serta perlindungan orang muda terkait keamanan digital.
Sementara itu, kelompok ketiga membahas partisipasi pemuda, kepeloporan, lingkungan, dan kehidupan sosial budaya.
Masing-masing kelompok mengidentifikasi persoalan, menyusun urutan prioritas, kemudian merancang solusi dan rekomendasi untuk menjawab masalah yang ditemukan.
Hasil pembahasan selanjutnya dipresentasikan oleh setiap kelompok sebagai bahan bersama untuk melihat persoalan kepemudaan dan kemungkinan tindak lanjutnya.
Rakor Organisasi Pemuda yang digelar Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur ini diikuti 50 peserta yang mewakili 50 organisasi pemuda di Flores Timur.
Rekomendasi hasil diskusi itu dijadwalkan akan disampaikan oleh orang muda bersama Dinas PKO pada upacara Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, di Kantor Bupati Flores Timur. (Tino)

















