LEWOLEBA, AKSARANEWS.NET – Plan Indonesia bersama Forum Jurnalis Lembata (FJL) secara resmi meluncurkan “Buku Saku Panduan Peliputan Anak Berbasis Perlindungan Anak” bertempat di Hotel Olympic, Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (16/6).
Kolaborasi strategis ini hadir sebagai langkah nyata dalam mendorong pemenuhan hak dan memperkuat sistem perlindungan anak melalui produk jurnalistik yang etis dan aman.
Penyusunan buku saku ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran media massa sebagai pilar demokrasi sekaligus agen edukasi yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik.
Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ini dinilai berada dalam kondisi darurat dan cenderung mengalami peningkatan.
Menurut data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Lembata yang dilaporkan, rasio kasus selama tiga tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang mengkhawatirkan, di mana pada tahun 2023 tercatat sebanyak 111 kasus, kemudian sempat menurun menjadi 63 kasus pada tahun 2024, namun hingga September 2025 angkanya sudah menyentuh 61 kasus.
Jumlah tersebut diprediksi akan terus
bertambah hingga akhir tahun 2025, belum lagi memperhitungkan banyaknya kasus serupa yang sengaja didiamkan atau tidak dilaporkan di berbagai tingkatan masyarakat.
Oleh karena itu, melalui buku panduan ini, insan media di Lembata diharapkan dapat menyajikan pemberitaan yang sensitif terhadap hak-hak anak, serta menghindari eksploitasi atau dampak psikologis sekunder yang berpotensi merugikan anak yang berhadapan dengan hukum maupun yang menjadi korban kekerasan.
Acara peluncuran Buku Saku Panduan Peliputan Anak Berbasis Perlindungan Anak dihadiri dan didukung penuh oleh organisasi masyarakat sipil (OMS), pemerhati anak, insan media, serta perwakilan anak dan kaum muda. Selain seremoni peluncuran, kegiatan ini juga diisi dengan ruang diskusi untuk membedah isi buku saku serta merumuskan komitmen kolaborasi berkelanjutan demi menciptakan lingkungan Kabupaten Layak Anak (KLA) yang aman dan inklusif.
“Peluncuran buku saku ini merupakan tonggak penting dalam kerja-kerja perlindungan anak di Lembata. Kami menyadari bahwa media memiliki kekuatan luar biasa untuk mengedukasi publik sekaligus mengawal kebijakan. Dengan adanya panduan praktis ini, kami berharap rekan-rekan media dapat terus memproduksi karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga menempatkan keselamatan, kerahasiaan, dan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prioritas utama. Ini adalah kerja bersama untuk memastikan anak-anak kita tumbuh di lingkungan yang aman, termasuk di ruang siber dan media massa,” ujar PIA Lembata Manager Plan Indonesia, diwakili oleh Team Leader PIA Lembata, Hermanus Ama Lawe.
Ketua Forum Jurnalis Lembata (FJL), Alexander Taum, menambahkan pihaknya menyambut baik dan bangga atas rampungnya kolaborasi penyusunan buku saku ini.
“Bagi kami, jurnalisme yang ramah anak bukan berarti membatasi ruang gerak pers, melainkan sebuah bentuk kepatuhan etis dan tanggung jawab sosial. Buku saku ini akan menjadi kompas bagi kawan-kawan jurnalis di lapangan agar tetap tajam dalam mengabarkan fakta, namun tetap lembut dan protektif saat berhadapan dengan subjek anak. Kami berkomitmen untuk terus mengawal implementasi panduan ini dalam kerja-kerja jurnalistik harian kami.” jelasnya.
Alexander juga menambahkan buku saku hasil kemitraan strategis antara Plan Indonesia dan Forum Jurnalis Lembata ini akan digunakan oleh forum jurnalis di lembata, serta didiseminasikan secara bertahap kepada anak-anak dan komunitas terkait di Lembata.
Reno (18), Ketua Youth Advisory Panel Plan Indonesia di Lembata, mengaku bangga karena kaum muda diberikan ruang untuk mengawal proses penyusunan hingga peluncuran buku saku peliputan ramah anak.
Menurutnya, keterlibatan aktif ini memberikan banyak wawasan baru mengenai pentingnya perlindungan anak dalam pemberitaan media.
“Terciptanya buku saku ini merupakan tindakan nyata untuk melindungi dan memberikan rasa nyaman kepada anak dalam proses peliputan. Desainnya menarik dan poin-poin di dalamnya sangat jelas sehingga mudah dipahami,” ujar Reno.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran buku saku ini harus berdampak jangka panjang dan tidak sekadar menjadi simbol di atas kertas.
“Harapan saya, dibutuhkan komitmen riil dalam pelaksanaannya di lapangan agar kami sebagai konsumen berita juga bisa percaya. Semoga dengan adanya buku ini, semakin banyak anak yang terlindungi
dan merasa nyaman saat berhadapan dengan media,” pungkasnya.

















