LEMBATA, AKSARANEWS.NET – Kapolres Lembata, AKBP Nanang Wahyudi menyampaikan bahwa pada Jenazah Kepala Desa Laranwutun sudah dilakukan autopsi oleh Tim Forensik rumah sakit Bhayangkara. Laranwutun, Kamis, (30/04).
Kepada para keluarga orang nomor satu di polres lembata ini menyampaikan belasungkawa dan terkait hasil autopsi ia berjanji akan menyampaikan secara transparan.
Kapolres menambahkan bahwa hasil autopsi tersebut akan digunakan untuk melengkapi penyelidikan kasus kematian kepala desa Polikarpus tersebut.
Meski sudah memeriksa beberapa saksi namun pihak kepolisian belum menetapkan tersangka.
“Polisi belum menyimpulkan apakah peristiwa ini merupakan tindak pidana atau tidak. Seluruh temuan masih dalam proses analisis, ucap Kapolres Nanang
“Kami masih melakukan pendalaman lebih lanjut dengan mengaitkan hasil autopsi, barang bukti, dan keterangan saksi,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Tim Forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara Kupang yang dipimpin dr. Edwin Tambunan usai melakukan autopsi terhadap jenazah Kepala Desa Laranwutun, Polikarpus Demon dibantu oleh Aiptu Robby Yusuf, Amd. Kep dan Briptu Saint V. Tefnai, Amd. Kep mengatakan proses autopsi ini berlangsung sekitar 2 jam lamanya.
dr. Edwin menjelaskan beberapa temuan sementaranya kepada media dan disaksikan oleh warga.
“Saat proses pemeriksaan kami temukan ada patah tulang kepala sebelah kiri dari atas sampai ke dasar tulang tengkorak,” Ungkap dr. Edwin.
Tambahnya, patah tulang kepala itu bisa menjadi penyebab kematian. Namun, kami masih sulit menganalisa patah itu disebabkan benturan oleh pihak lain atau karena diri sendiri.
Menurut dr. Edwin tantangan terbesar dalam autopsi ini adalah pembusukan pada jenazah.
Meskipun demikian, Edwin mengakui betapa kuatnya Apol Making yang mampu bertahan selama lima hari pasca ditemukan tak sadarkan diri di jalan umum di Desa Watodiri pada 08 Februari 2026.
Selain ditemukan patah tulang kepala, dr. Edwin juga mengungkapkan, ada patahan di rusuk kiri ruas ke tujuh bagian belakang dekat punggung.
“Selebihnya sudah pembusukan jadi ada samar-samar antara memar dan proses pembusukan itu sendiri,” ujarnya.
Edwin juga menjelaskan temuan lainnya yaitu adanya luka memar yang masih bisa terdeteksi di bahu sebelah kanan. Sebab, warnanya agak berbeda dengan pembusukan pada jenazah.
Selain itu, Edwin juga mengambil beberapa sampel dari organ Apol Making untuk diperiksa di Lab Denpasar.
“Tadi beberapa sampel yang kita ambil ada sedikit dari bagian hati karena memang diduga ada riwayat minum-minum. Kemudian ada sampel limpa juga masih bisa diperiksa di toksikologi untuk melihat kira-kira ada alkoholnya,” jelas Edwin.
Toksikologi untuk melihat berapa kadar racun dari korban.
“Jadi saya mau lihat apakah kadar tertentu yang menyebabkan kematian karena alkohol dengan racun-racun yang lain itu,” sambung Edwin.
Untuk itu, Edwin meminta agar keluarga bersabar untuk menunggu hasil pemeriksaan di Denpasar.
“Kepada keluarga kami meminta agar bersabar untuk menunggu hasil pemeriksaan di Denpasar dan semua temuan akan kami masukan ketika di BAP oleh penyidik di Polres Lembata.” Tuntas dr. Edwin.

















