LEMBATA, AKSARANEWS.NET – Sulaiman Wahid Witak, pengusaha perikanan di Balauring yang namanya disebut sebagai aktor dalam perusakan rumpon sebagaimana diberitakan beberapa waktu lalu akhirnya angkat bicara.
Sulaiman menyampaikan kekecewaannya kepada media ini saat ditemui di kediamannya di dusun selatan Ujung pasir desa Balauring pada Selasa 21 April 2026.
Ia mengatakan kecewa setelah namanya dikaitkan dengan dugaan perusakan rumpon milik pihak lain. Ia juga mengaku tersinggung karena disebut sebagai “Firaun” dalam polemik yang mencuat di Media.
“Saya kecewa dan tersinggung atas tuduhan yang dilayangkan oleh MM, jika saya menyuruh orang memotong rumpon milik MM. Itu tidak benar, justru rumpon milik saya yang berulang kali dirusak sejak tahun 2023 hingga 2026,” Ucap Sulaiman dengan nada kecewa.
Lanjut Sulaiman, hampir 20 tahun saya menjalankan usaha perikanan, saya telah mengelola sekitar 80 unit rompong dan lima armada kapal lampara. Dan dari usaha ini sudah menyerap sekitar 70 tenaga kerja lokal yang digaji sesuai penghasilan usaha.
“Seluruh izin usaha telah dipenuhi, mulai dari izin labuh rumpon di tingkat Provinsi, izin penangkapan ikan, hingga pembayaran pajak rumpon secara rutin.
“Terkait dugaan perusakan rumpon miliknya, Sulaiman mengaku telah melaporkan kasus tersebut ke Polres Lembata pada 13 April 2026. Laporan itu berkaitan dengan peristiwa pemotongan 15 rompong miliknya yang terjadi secara beruntun sejak 28 hingga 31 Maret 2026,” Tambah Sulaiman.
Ia mengaku memiliki bukti berupa tali dan gabus rumpon yang dipotong, serta rekaman pengakuan dua saksi terkait dugaan adanya pendanaan untuk merusak rompong miliknya. Namun dalam laporan tersebut, ia tidak menyebut nama terduga pelaku.
“Saya tidak mau nama saya tercoreng di muka publik. Saya tidak minta uang, biar hukum saja yang berjalan. Yang penting ada efek jera,” tegasnya.
Senada dengan itu, ABK Sulaiman, Saputra, membantah tudingan bahwa para pekerja pernah diperintah merusak rumpon milik orang lain. Ia menyebut selama dua tahun bekerja, tidak pernah ada perintah semacam itu.
“Justru rumpon kami yang dirusak, tetapi kami malah dituduh merusak milik orang lain,” katanya.
Di sisi lain, istri Sulaiman, Jamalia Muhamad Safari, berharap nama baik suaminya dipulihkan. Ia mengaku terpukul dengan pemberitaan yang beredar hingga sempat menangis.
“Tolong luruskan nama suami saya. Berita itu sangat menyakitkan bagi keluarga kami,” ujarnya.
Sulaiman berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara baik dan seluruh nelayan di Balauring dapat kembali bekerja sama demi kemajuan usaha perikanan daerah.

















