LARANTUKA, AKSARANEWS.NET – Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen secara resmi membuka Kick Off Project Midwifery Education NTT: Adaptation and Resilience (MENTARI) dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim di Kabupaten Flores Timur.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Sunrise, Larantuka, Senin (31/8/2026), tersebut ditandai dengan penandatanganan komitmen antara Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan mitra Project MENTARI.
MENTARI merupakan program yang dijalankan Asosiasi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND) melalui Program Hibah Australia-Indonesia Institute (AII), dengan dukungan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia dan bekerja sama dengan Queensland University of Technology (QUT).
Kick Off Project MENTARI menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem kesehatan reproduksi, maternal, dan neonatal dalam menghadapi krisis, melalui peningkatan kapasitas bidan dan fasilitas kesehatan agar tetap tangguh menghadapi bencana alam dan perubahan iklim.
Urgensi program ini semakin kuat karena wilayah Flores baru saja terdampak gempa bumi berkekuatan 7,7 SR pada Agustus 2026. Flores Timur sendiri juga menghadapi erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki yang telah berlangsung sejak November 2024 hingga sekarang.
Melalui sambutan secara daring, Acting Counsellor for Governance and Human Development at the Australian Embassy in Jakarta, Elena Martin Avila, menyampaikan harapan agar proses pemulihan akibat bencana dapat berjalan lancar dan masyarakat terdampak segera pulih.
“Bencana seperti gempa bumi ini mengingatkan kita semua akan pentingnya sistem kesehatan yang tangguh,” ujarnya.
Elena juga menyampaikan selamat atas Project Midwifery-Led Early Warning and Climate Adaptation Modelling for Health System Resilience in East Flores yang diluncurkan melalui kegiatan tersebut.
Menurutnya, Australia berkomitmen mendukung sistem kesehatan yang inklusif, adil dan kuat, termasuk memastikan perempuan dan bayi dapat mengakses layanan kesehatan yang berkualitas tinggi dan sesuai kebutuhan.
“Oleh karena itu, Australia sangat senang mendukung projecet MENTARI yang hari ini kita luncurkan,” ungkapnya.
Elena menyambut baik kolaborasi antara AIPKIND dan Queensland University of Technology (QUT) dalam menggabungkan keahlian Indonesia dan Australia di bidang pendidikan kebidanan, penguatan sistem kesehatan dan pertukaran pengetahuan.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan pemerintah, akademisi, organisasi profesi, dan masyarakat dalam proyek tersebut yang menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan kesehatan dan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Sementara itu, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen menyampaikan terima kasih kepada AIPKIND, QUT, DFAT Australia, Australia-Indonesia Institute serta seluruh mitra yang telah memilih Flores Timur sebagai tempat pembelajaran dan implementasi proyek tersebut.
Bupati menegaskan perubahan iklim saat ini tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi telah menjadi isu pembangunan dan kesehatan masyarakat karena dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat sekaligus mengganggu keberlangsungan pelayanan kesehatan.
Dampaknya, kata dia, dapat menjadi lebih berat bagi kelompok rentan seperti perempuan, ibu, bayi, anak dan remaja. Dalam situasi bencana, kebutuhan pelayanan kesehatan tetap berjalan sehingga sistem kesehatan harus mampu hadir dalam kondisi normal maupun krisis.
“Dan karena itu, sistem kesehatan harus tetap mampu hadir, bahkan ketika situasi tidak normal. Di sinilah saya melihat pentingnya Proyek MENTARI.” ucapnya.
Bupati menilai peran bidan semakin strategis dalam menghadapi perubahan iklim dan kebencanaan karena bidan merupakan tenaga kesehatan yang paling dekat dengan perempuan, ibu, bayi, anak dan keluarga.
Bidan tidak hanya memberikan pelayanan ketika seseorang sakit, tetapi juga berperan mengenali risiko, membaca tanda-tanda awal, melakukan pencegahan, memberikan edukasi, memberikan pelayanan adaptif serta membangun ketangguhan keluarga dan komunitas.
Ia mengapresiasi pendekatan Project MENTARI yang menghubungkan sistem pendidikan kebidanan, sistem pelayanan kesehatan dan kebutuhan masyarakat.
Hasil kajian dan pengalaman lapangan diharapkan dapat berkontribusi pada pembaruan kurikulum, modul pendidikan dan pelatihan serta praktik kebidanan yang responsif terhadap perubahan iklim dan kebencanaan.
Flores Timur, lanjut Bupati, memiliki karakter geografis dan sosial yang menjadi tantangan sekaligus kekuatan, mulai dari wilayah kepulauan, masyarakat yang tersebar, tantangan akses pelayanan hingga pengalaman menghadapi berbagai risiko bencana dan perubahan lingkungan.
Ia menilai kehadiran Project Mentari merupakan kesempatan penting bagi para bidan di Flores Timur untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
“Flores Timur beruntung mendapatkan project kegiatan ini. Para bidan akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, baik untuk menghadapi situasi bencana maupun dalam melakukan persiapan sebelum bencana,” ungkapnya.
Bupati mengungkapkan bahwa Project Mentari sejalan dengan berbagai program inovasi Pemerintah Kabupaten Flores Timur di bidang kesehatan, salah satunya GO CINTA 2H2.
Program GO CINTA 2H2 merupakan inovasi kolaboratif Pemerintah Kabupaten Flores Timur di bidang kesehatan yang berfokus pada upaya menurunkan angka stunting serta menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Berbagai upaya tersebut telah menunjukkan perkembangan positif. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, tidak terdapat kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Flores Timur.
Ia berharap data dan pengalaman masyarakat dapat menjadi dasar untuk merancang intervensi yang kontekstual, realistis dan berkelanjutan, termasuk memperkuat koordinasi, pemanfaatan data, komunikasi serta sistem peringatan dini di daerah.
“Early warning harus diikuti dengan early action. Peringatan dini tidak boleh berhenti sebagai informasi. Ia harus menjadi dasar bagi tindakan yang cepat, tepat dan terkoordinasi,” harapnya.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Bupati menyatakan dukungan terhadap Project MENTARI yang dinilai sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat pelayanan dasar dan membangun masyarakat yang tangguh.
Kepada para tenaga kesehatan, khususnya bidan, Bupati berpesan agar terus berperan sebagai garda terdepan masyarakat dalam mengenali risiko, membangun komunikasi, memberikan edukasi dan melakukan pencegahan.
“Jadilah mata dan telinga terdepan masyarakat, kenali risiko, bangun komunikasi, berikan edukasi, lakukan pencegahan, dan ketika risiko muncul, pastikan keluarga dan masyarakat tidak menghadapinya sendirian,” tandasnya.
Kegiatan tersebut diikuti secara daring maupun secara langsung. Secara daring hadir Acting Counsellor for Governance and Human Development at the Australian Embassy in Jakarta Elena Martin Avila, Queensland University of Technology Australia Jerico Pardosi, Ketua AIPKIND Jumiarni Ilyas, dan peserta lainnya.
Sementara secara langsung hadir Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Flores Timur, sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemkab Flores Timur, Project Director, Mitra Kadarsih, tenaga kesehatan dan bidan, LSM, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para undangan lainnya. (Tino)

















