LEMBATA, AKSARANEWS.NET — Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq melakukan panen perdana semangka bersama Kelompok Tani Ola Take di Desa Waimatan, Tanah Mea, Ile Ape, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi penanda keberhasilan kolaborasi antara kelompok pemuda tani Ola Take, Plan International Indonesia Area Lembata, Pemerintah Desa Waimatan, Pemerintah Desa Hadakewa, serta dukungan penyuluh pertanian dalam mengembangkan sektor hortikultura berbasis ekonomi masyarakat.
Panen perdana tersebut menghasilkan sekitar 3 ton semangka yang berasal dari sentra produksi Desa Waimatan, Hadakewa, dan Watodiri. Menariknya, hasil panen langsung dipasarkan ke Kota Kupang sebagai bagian dari upaya memperluas akses pasar produk pertanian lokal Lembata.
Kepala Desa Hadakewa Klemens Kewaman saat dikonfirmasi menjelaskan, pengembangan komoditas semangka di wilayah tersebut menunjukkan tren positif dalam dua tahun terakhir. Pada 2025, produksi semangka Desa Hadakewa cukup menggembirakan, hanya saja hingga berita ini diturunkan data belum diperoleh.
Sementara sepanjang Januari hingga pertengahan Agustus 2026, produksi mencapai 18 ton dengan dua kali pengiriman ke Kota Kupang sebanyak total 7 ton, terdiri atas 5 ton dari Hadakewa dan 2 ton dari wilayah Ile Ape.
“Pasar semangka dari Lembata saat ini sudah masuk ke sejumlah gerai di Kota Kupang, termasuk hypermart, hotel, rumah sakit, serta kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk pasar lokal Lembata, sebagian besar terserap oleh dapur MBG,” ujar Klemens.
Menurutnya, pendampingan pengembangan semangka saat ini tidak hanya dilakukan di Desa Hadakewa, tetapi juga mencakup Desa Waimatan, Tanah Mea, dan Watodiri. Pendampingan tersebut melibatkan pemerintah desa, penyuluh pertanian, serta mitra pembangunan agar produksi dan kualitas hasil pertanian semakin meningkat.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ola Take Yohanes Rivaldo Keluli
Delik Watun mengungkapkan, kelompoknya berhasil melakukan panen perdana dari lahan semangka seluas 60 x 40 meter persegi. Dari 1.200 tanaman semangka yang ditanam, sekitar 1 ton berhasil dipanen dengan nilai keuntungan mencapai Rp15 juta.
“Tanaman ini mulai ditanam pada 12 Juni 2026 setelah persiapan lahan dilakukan sejak Mei. Dalam waktu sekitar dua bulan, hasilnya sudah dapat dipasarkan ke Kupang dan sebagian dibeli masyarakat lokal Lembata,” kata Delik.
Ia menjelaskan, harga jual semangka saat ini mencapai Rp15 ribu per kilogram di tingkat petani dengan tujuan utama pasar Kota Kupang. Namun, perjalanan usaha tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sekitar 300 pohon semangka mengalami kegagalan akibat berbagai kendala teknis.
Meski demikian, Delik menyebut kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat kelompoknya. Keberhasilan panen perdana menjadi motivasi untuk terus mengembangkan usaha pertanian produktif berbasis kelompok pemuda.
“Capaian ini merupakan hasil kerja sama yang baik bersama Plan Indonesia Area Lembata, Pemerintah Desa Waimatan, Kepala Desa Hadakewa, serta penyuluh pertanian. Kami berharap kemitraan ini terus dipertahankan dan ditingkatkan untuk pengembangan usaha ke depan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq mengapresiasi kerja keras kelompok tani Ola Take dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan komoditas semangka. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi contoh bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Bupati menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan dari penyuluh pertanian serta penguatan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan agar usaha pertanian dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Keberhasilan hari ini harus menjadi contoh yang dapat diduplikasi oleh kelompok-kelompok pemuda lainnya. Dengan kerja sama, pendampingan, dan kemauan untuk berusaha, masyarakat dapat menciptakan sumber ekonomi baru dari sektor pertanian,” kata Bupati.
Panen perdana semangka Ola Take menjadi gambaran bahwa pengembangan pertanian modern berbasis kelompok mulai memberikan dampak nyata bagi ekonomi masyarakat Lembata. Dari lahan sederhana, komoditas lokal kini mampu menembus pasar regional dan membuka peluang usaha baru bagi generasi muda desa. Prokompim Lembata

















