𝑶𝒍𝒆𝒉: 𝑻𝒊𝒏𝒐 𝑾𝒂𝒕𝒐𝒘𝒖𝒂𝒏
Perhelatan Piala Dunia 2026 baru saja usai. Aroma euforianya belum benar-benar hilang. Di media sosial, para pendukung berbagai tim masih saling berolok-olok. Setiap orang selalu memiliki alasan untuk mendukung sebuah tim sepak bola.
Alasannya beragam. Ada yang memilih karena pemainnya tampan. Ada yang terpikat kemampuan individu. Ada yang karena koleksi trofinya. Ada yang ikut pilihan suami, pacar, teman, bahkan ada yang ikut ramai supaya tidak dibilang kurang gaul.
Sejak lama saya memilih Timnas Spanyol. Terus terang, saya juga tidak ingat kapan tepatnya. Saya mulai mengenal Piala Dunia memang sejak SD, tapi hanya lewat gambar pemain sepak bola di sampul buku tulis. Memasuki SMP, barulah saya mulai mengenal Piala Dunia sedikit lebih baik.
Dulu, televisi di kampung kami masih sangat sedikit. Barangkali banyak orang juga mengalami masa yang sama hingga tahun 2000-an. Hanya keluarga tertentu yang mampu membelinya. Saat itu, televisi masih menjadi salah satu barang mewah.
Tidak semua orang bisa masuk begitu saja untuk menonton. Ada pemilik rumah yang menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Saking sedikitnya televisi, pemiliknya terasa seperti pemegang kunci surga.
Lalu muncullah kreativitas khas kampung. Mau menonton? Jangan datang dengan tangan kosong. Saat itu berlaku semacam sistem barter.
Ada yang membawa kayu bakar. Ada yang membawa biji mete. Ada yang membantu mengambil air. Ada pula yang lebih dulu membantu pekerjaan rumah. Setelah itu, barulah diizinkan masuk untuk ikut menonton.
Seingat saya, saat itu di kampung kami tidak ada siaran Piala Dunia. Kalau ingin menonton, kami harus berjalan kaki ke kampung tetangga. Kesempatan menonton pun tidak banyak, sehingga saya belum benar-benar mengikuti setiap pertandingan.
Singkat cerita, Piala Dunia 2010 menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Saat itu saya berada di Kota Makassar. Untuk pertama kalinya saya mengikuti perjalanan Spanyol sejak pertandingan pertama hingga final.
Saya menyaksikan bagaimana tim Matador bermain dengan penuh kesabaran. Mereka tidak tergesa-gesa menyerang. Bola terus mengalir dari kaki ke kaki.
Xavi mengatur tempo permainan, Iniesta membuka ruang, Sergio Busquets menjaga keseimbangan di lini tengah, David Villa mencari celah, sementara Puyol selalu sigap mengawal pertahanan.
Lalu tibalah pertandingan final melawan Belanda. Pertandingan berlangsung sengit. Peluang datang silih berganti. Sampai akhirnya Iniesta melepaskan tendangan yang mengubah sejarah. Skor 1-0 membawa Spanyol menjadi juara dunia untuk pertama kalinya.
Saya ikut bersorak malam itu. Rasanya seperti penantian panjang akhirnya terbayar. Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa pilihan saya mendukung Spanyol memang punya alasan yang kuat.
Alasannya bukan karena Spanyol juara, tapi karena permainan kolektif mereka yang sangat memukau. Sungguh. Kalau alasannya hanya trofi, mungkin saya sudah lama pindah mendukung tim lain yang lebih sering juara.
Meski telah beberapa kali menjuarai Piala Eropa, perjalanan Spanyol tidak selalu indah. Mereka juga beberapa kali tersingkir lebih awal dan gagal menembus final Piala Dunia.
Spanyol harus menunggu selama 16 tahun hingga akhirnya berhasil sampai di partai puncak Piala Dunia 2026. Dan selama itu, saya tidak pernah berpindah dukungan. Saya tetap memilih Spanyol.
Di Piala Dunia 2026, karakter permainan mereka tetap sama. Kolektif dan atraktif tetap menjadi identitas yang terus hidup. Mereka bermain sebagai satu kesatuan. Semua saling percaya, saling membantu, dan saling menutup kekurangan.
Pada saat satu pemain kehilangan bola, pemain lain langsung datang menutup ruang. Tidak ada yang sibuk saling menyalahkan. Saat menyerang pun begitu. Bola berpindah cepat hingga akhirnya menemukan celah yang sulit ditutup lawan.
Lihat saja bagaimana Rodri menjaga keseimbangan permainan, Pau Cubarsi mengawal lini belakang dengan tenang, Lamine Yamal dan Nico Williams terus melancarkan serangan dari kedua sisi, hingga Ferran Torres yang memastikan kemenangan Spanyol atas Argentina di partai final.
Timnas Spanyol akhirnya memboyong trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya. Bagi saya, ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada urusan menang atau kalah. Sepak bola ternyata mampu mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.
Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan kita bahwa kerja sama selalu memiliki nilai yang sangat tinggi. Tim yang saling percaya akan lebih kuat dibanding kumpulan pemain hebat yang berjalan sendiri-sendiri.
Pelajaran seperti itulah yang dibutuhkan Flores Timur. Daerah ini tidak kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas. Ada petani yang cerdas, pelaku usaha yang tangguh, akademisi yang kaya gagasan, tokoh adat, tokoh agama, generasi muda yang kreatif, berbagai komunitas, hingga diaspora yang tersebar di berbagai daerah.
Sejak awal, Bupati Anton Doni Dihen dan Wakil Bupati Ignasius Boli Uran berkali-kali menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi salah satu fondasi pembangunan daerah. Gagasan itu sangat relevan dengan kondisi Flores Timur sebagai sebuah kabupaten kepulauan yang memiliki tantangan pembangunan yang tidak sederhana.
Jarak antarpulau, antarkecamatan, hingga antardesa, keterbatasan anggaran, serta kebutuhan masyarakat yang beragam dan terus bertambah dari waktu ke waktu membuat pembangunan tidak mungkin bisa dipikul oleh pemerintah sendirian selama lima tahun.
Membangun daerah ini dibutuhkan keterlibatan banyak pihak agar setiap persoalan dapat dihadapi secara bersama-sama. Masyarakat Lamaholot telah lama memiliki warisan nilai yang sangat kuat, yaitu Gemohing.
Semangat Gemohing bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum gotong royong diajarkan di sekolah atau kolaborasi menjadi istilah yang populer, masyarakat Lamaholot telah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Gemohing hidup ketika masyarakat membangun rumah, membuka kebun, menggelar pesta adat, hingga membantu keluarga yang sedang mengalami kesulitan. Setiap orang datang membawa kemampuan yang dimiliki.
Semua saling bekerja sama, saling membantu. Ada yang menyumbang tenaga, ada yang membawa bahan makanan, ada yang menyiapkan peralatan. Semua bergerak untuk tujuan yang sama.
Semangat Gemohing memiliki makna yang sejalan dengan cara bermain Timnas Spanyol. Yang satu lahir di lapangan sepak bola, sementara yang lain tumbuh dalam kebudayaan masyarakat Lamaholot.
Keduanya mengajarkan bahwa keberhasilan lahir ketika setiap orang bersedia memainkan perannya. Tidak ada yang sibuk menghitung siapa yang bekerja paling banyak.
Di lapangan, Oyarzabal tidak sibuk menghitung berapa kali ia memanfatkan peluang. Dani Olmo tidak mengejar pujian. Lamine Yamal tidak berusaha memenangkan pertandingan seorang diri. Mereka memahami bahwa kemenangan hanya dapat diraih ketika semua pemain bergerak sebagai satu tim.
Pembangunan daerah pun begitu. Tidak semua orang harus menjadi tokoh utama. Ada yang bekerja di depan layar, ada yang di belakang layar. Ada yang menyumbangkan gagasan, ada yang menggerakkan masyarakat, ada yang menyediakan sumber daya. Selama tujuannya sama, setiap peran memiliki arti.
Lalu muncul pertanyaan yang kerap mengemuka dalam diskusi politik. Jika semua pihak diajak untuk berkolaborasi, apakah oposisi masih diperlukan?
Jawabannya jelas, sangat diperlukan. Pemerintah membutuhkan dukungan, juga kritik agar setiap kebijakan terus dievaluasi. Demokrasi tanpa oposisi ibarat pertandingan sepak bola tanpa lawan. Tidak ada yang menguji kualitas permainan.
Oposisi memiliki peran mengawasi, mengkritik, dan tidak menutup kemungkinan menawarkan alternatif solutif. Itulah fungsi demokrasi yang sehat. Tapi kritik yang baik lahir dari data, diperkuat oleh fakta, dan disampaikan dengan argumentasi yang jernih.
Percuma bila mengabiskan energi hanya untuk berdebat, sementara persoalan yang dihadapi masyarakat tetap menunggu penyelesaian. Pemerintah juga harus terus membuka ruang bagi kritik yang jujur, sebab dari sanalah lahir evaluasi dan perbaikan.
Sebaliknya, cemoohan, hinaan, atau tuduhan tanpa dasar hanya menghasilkan kegaduhan. Kolom komentar di media sosial mungkin menjadi ramai, tetapi jalan tidak otomatis menjadi mulus, sekolah tidak serta-merta menjadi lebih baik, dan kesejahteraan masyrakat tidak langsung meningkat.
Timnas Spanyol menunjukkan bahwa permainan indah lahir dari kerja kolektif. Masyarakat Lamaholot telah lebih dahulu mewariskan nilai yang sama melalui Gemohing. Tantangan kita hari ini adalah menjaga semangat itu tetap hidup dan menjadikannya fondasi dalam membangun Flores Timur.
Itulah pelajaran yang saya petik dari Piala Dunia 2026 hingga menjadi ide yang memantik lahirnya tulisan ini. Setiap orang tentu mengambil pelajaran yang berbeda. Ada yang belajar tentang sportivitas, ada yang belajar tentang kebersamaan, ada pula yang belajar agar tidak terlalu cepat mengejek tim lawan, dan lain-lain.
Sementara itu, perasaan setiap pendukung sudah pasti tidak sama. Mereka yang menang taruhan pasti tersenyum bahagia. Ada pula kelompok lain yang merasa lega dan bahagia, yakni kami yang sejak awal memilih setia mendukung Timnas Spanyol.


















