LEMBATA, AKSARANEWS.NET — Fenomena suhu panas yang dirasakan masyarakat Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian. Selain cuaca panas, jarak pandang di sejumlah wilayah juga dilaporkan berkurang akibat partikel asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kemungkinan kontribusi abu vulkanik di atmosfer.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lembata Andris Koban menjelaskan, asap karhutla dari sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan, Sulawesi, dan Papua diduga berkontribusi terhadap kondisi atmosfer di NTT, termasuk Lembata.
Khusus di Lembata, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi asap karhutla, tetapi juga kemungkinan adanya partikel abu vulkanik dalam jumlah lebih kecil.
“Material abu vulkanik sebagian dapat jatuh ke permukiman warga, sedangkan partikel yang sangat halus berpotensi bertahan di udara dan bercampur dengan partikel asap,” ujar Andris.
Meski demikian, untuk memastikan sumber partikel yang menyelimuti atmosfer serta tingkat konsentrasinya, diperlukan data pemantauan kualitas udara dan informasi resmi dari instansi terkait.
Salah satu kondisi yang dapat diamati masyarakat adalah berkurangnya jarak pandang ke objek yang berada jauh.
Gunung atau pulau yang biasanya terlihat dari kejauhan terkadang tampak samar, bahkan tidak terlihat pada waktu-waktu tertentu. Kondisi ini dirasakan di sejumlah wilayah Lembata.
Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan partikel di atmosfer. Namun jarak pandang yang berkurang juga dapat disebabkan faktor lain seperti kabut, kelembapan udara, dan kondisi cuaca.
Karena itu, pengamatan visual saja belum cukup untuk memastikan bahwa asap karhutla atau abu vulkanik menjadi penyebab utama berkurangnya jarak pandang.
Selain jarak pandang, masyarakat juga merasakan suhu panas yang bertahan dari pagi hingga sore, bahkan sampai malam hari.
Menurut Andris, kondisi atmosfer yang mengandung partikel asap dan debu dapat memengaruhi keseimbangan energi serta kondisi cuaca. Namun pengaruhnya terhadap suhu permukaan tidak selalu meningkatkan panas, karena bergantung pada jenis, konsentrasi, dan karakteristik partikel.
Suhu panas hingga malam hari juga dapat dipengaruhi faktor meteorologis lain seperti tutupan awan, kelembapan, angin, dan kondisi suhu permukaan. Untuk mengetahui penyebab dominan, diperlukan data pengamatan cuaca dan analisis dari lembaga meteorologi.
Di sisi lain, Andris menyoroti ancaman karhutla yang perlu perhatian serius. Kondisi lahan kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar, terutama ketika muncul sumber api.
Aktivitas manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar lahan untuk kepentingan tertentu berpotensi memicu kebakaran yang meluas.
Ia menilai upaya pencegahan dan penanganan karhutla di Lembata masih membutuhkan penguatan, terutama ketersediaan sumber daya, koordinasi antarlembaga, dan keterlibatan pemerintah hingga tingkat desa.
“Penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan, pengawasan wilayah rawan, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran yang terbukti melanggar aturan juga perlu dijalankan konsisten,” tegasnya.
Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan dampak lebih besar terhadap lingkungan maupun kesehatan.
Andris berharap kondisi cuaca panas segera berakhir seiring kemungkinan masuknya musim hujan pada awal November.
Meski begitu, datangnya musim hujan tetap perlu diantisipasi. Perubahan cuaca setelah periode kering dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di wilayah rentan, terutama jika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan banjir, tanah longsor, dan dampak cuaca ekstrem lainnya sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Di tengah situasi tersebut, pemantauan cuaca, informasi kualitas udara, dan peringatan dini dari instansi berwenang menjadi penting agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat.
Karhutla bukan sekadar persoalan kebakaran lahan, melainkan juga ancaman terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

















