LARANTUKA, AKSARANEWS.NET – Bertani tidak selamanya harus mengandalkan tanah dan lahan yang luas. Melalui sistem hidroponik, sayuran dapat dibudidayakan dengan memanfaatkan instalasi khusus dan pengaturan air bernutrisi.
Pengetahuan ini dipelajari 16 peserta Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Pembudidayaan Sayuran Sistem Hidroponik yang diselenggarakan UPTD Latihan Kerja Dinas Tenaga Kerja Flores Timur, terdiri dari 10 laki-laki dan enam perempuan.
Pelatihan dengan beban belajar 140 jam ini berlangsung sejak 5 Oktober hingga ditutup pada Selasa, 20 Oktober 2026. Peserta mendapatkan materi teori serta praktik langsung di lapangan.
Kegiatan pembelajaran berlangsung di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Flores Timur, Desa Lamawalang, sedangkan praktik budidaya dilaksanakan di Kelurahan Sarotari Timur, Kecamatan Larantuka.
Pendanaan pelatihan ini didukung Kementerian Ketenagakerjaan RI melalui DIPA Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Lombok Timur Tahun Anggaran 2026.
Bagi Maria Titami, salah seorang peserta, pelatihan tersebut memberinya pengetahuan baru tentang penyemaian dan pengaturan pH air dalam sistem hidroponik.
“Pengetahuan baru yang saya dapati dalam selama mengikuti pelatihan hidroponik ini tentunya adanya saya mengetahui cara penyemaian dari sistem hidroponik ini. Itu yang pertama.
Terus yang kedua itu saya mengetahui cara mengatur kesamaan pH air,” ungkap Maria saat diwawancarai di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Flores Timur, Desa Lamawalang, Kecamatan Larantuka, Selasa (20/10/2026).
Meski belum memiliki rencana untuk memulai usaha dalam waktu dekat, ia berharap keterampilan tersebut suatu saat bisa dimanfaatkan untuk menambah pendapatan keluarga.
“Ya, kalau untuk rencana mungkin belum ada saat ini, tapi mungkin untuk kedepannya pasti ada rencana untuk membuat sistem hidroponik ini untuk peningkatkan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Namun, keinginan itu masih berhadapan dengan kendala ketersediaan bahan. Maria mengaku, sejumlah material yang dibutuhkan untuk budidaya hidroponik masih sulit diperoleh.
“Mungkin kalau kendalanya terkait dengan barang-barang atau bahan yang dibutuhkan dalam sistem hidroponik ini sangat sulit saya temukan di tempat tinggal saya saat ini.
Jadi untuk kendala yang saya hadapi saat ini mungkin bahan-bahan seperti nutrisinya, bibitnya, ada juga netpot atau pot untuk penanamannya, ada juga rockwool penyemaian itu, yang gabus,” kata dia.
Maria berharap pemerintah Kabupaten Flores Timur dapat membantu menyediakan bahan maupun peralatan yang dibutuhkan untuk mengembangkan budidaya hidroponik.
“Dukungan dari pemerintah Kabupaten Flores Timur dalam bentuk mungkin dapat memfasilitasi tempat atau memfasilitasi bahan dan peralatan yang akan saya gunakan untuk sistem hidroponik,” ungkapnya.
Mengubah Cara Pandang tentang Pertanian
Instruktur pelatihan, Boro Bebe Riantobi, menjelaskan bahwa materi pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis. Peserta juga dibekali kemampuan soft skill dan pengetahuan kewirausahaan.
“Terkait pelatihan sistem budidaya hidroponik ini materinya soft skill, hard skill, sama kewirausahaan. Tiga materi pokok itu,” kata Bebe.
Menurut dia, soft skill diberikan untuk membangun motivasi, kedisiplinan, dan kesiapan mental peserta. Sementara itu, materi hard skill mencakup pembuatan instalasi dan teknik budidaya, sedangkan kewirausahaan menjadi bekal untuk mengembangkan usaha.
Karena budidaya hidroponik diarahkan untuk menghasilkan nilai ekonomi, peserta perlu memahami proses usaha dari hulu hingga hilir, termasuk pemanfaatan hasil produksi.
“Yang paling penting soft skill karena suksesnya usaha budidaya adalah 80% soft skill ketimbang hard skil,” ungkapnya.
Dalam praktik, peserta mulai mampu menyiapkan alat dan bahan serta melakukan pemasangan instalasi hidroponik secara mandiri. Instruktur memberikan contoh pada tahap awal, kemudian peserta melanjutkan pekerjaan mereka sendiri.
“Jadi saya hanya kasih contoh, selanjutnya mereka mengerjakan sendiri. Dan Alhamdulillah hasil ini juga makad kerja mereka. Jadi sekarang prosesnya sementara pemeliharaan, jadi nanti kita tunggu sampai panennya,” jelas Bebe.
Menurutnya, capaian pelatihan tidak hanya terlihat dari keterampilan teknis yang meningkat, tetapi juga perubahan cara pandang peserta terhadap pertanian.
Budidaya sayuran, kata dia, tidak harus selalu dilakukan secara konvensional di kebun. Teknologi hidroponik membuka pilihan lain bagi masyarakat untuk mengembangkan pertanian hortikultura dengan pendekatan yang lebih modern.
Modal Awal dan Keberlanjutan Usaha
Meski menawarkan peluang, Bebe mengingatkan bahwa usaha hidroponik membutuhkan investasi awal yang perlu dipersiapkan. Dukungan pembiayaan menjadi salah satu tantangan bagi peserta yang ingin memulai usaha secara mandiri.
“Karena bagaimanapun material yang dibutuhkan ini membutuhkan biaya awalnya. Kurang lebih ya Rp45 juta untuk 10 unit peralon. Kalau satu peralon itu kita jarak tanamnya 15 cm sekitar 25 lobang,” tuturnya.
Dengan 10 paralon, menurut perhitungannya, tersedia sekitar 250 lubang tanam. Jumlah tersebut dapat menjadi gambaran kapasitas produksi apabila seluruh tanaman tumbuh dengan baik.
“Kalau Pakcoy ini kalau dijual dengan harga satu (pohon) Rp5000, maka tinggal dikali saja. Dan itu cara menghitung keuntungannya seperti itu. Kalau semakin banyak semakin bagus. Kalau ada 1.000 pohon saja kali Rp 5.000, maka Rp5 Juta,” jelasnya.
Perhitungan itu merupakan gambaran nilai penjualan kotor, bukan keuntungan bersih. Biaya benih, nutrisi, listrik, perawatan, dan kebutuhan produksi lainnya tetap perlu diperhitungkan.
Bebe menambahkan, setelah instalasi tersedia, pengeluaran rutin tetap diperlukan, terutama untuk benih, rockwool sebagai media penyemaian, dan listrik yang menggerakkan sistem pengairan.
Ia berharap pelatihan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan selama kegiatan berlangsung. Peserta masih membutuhkan pembinaan, pengawalan, dan pendampingan agar mampu mengubah pengetahuan tersebut menjadi usaha yang berkelanjutan.
“Nah, mereka perlu diwadahi, pengembangan pembinaan lebih lanjut. Mungkin pasca pelatihan perlu ada pengawalan dan pendampingan lebih intens lagi sehingga Outcome-nya,” kata dia.
Menurut Bebe, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari keterampilan yang diperoleh peserta, tetapi juga dari kemampuan mereka menerapkan pengetahuan tersebut untuk membangun usaha mandiri.
“Kalau kita praktik pelatihan ini kan output-nya saja, tapi outcome-nya itu kan tadi kita lihat mereka bisa mengadopsi pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi usaha mandiri di tingkat mereka. Dan itu goalnya untuk kemajuan pembangunan pertanian di Flores Timur,” tutupnya.
Sebagai informasi, tahun ini pemerintah daerah mengalokasikan anggaran APBD Flores Timur untuk pembangunan instalasi hidroponik di 17 titik di Kecamatan Larantuka. Saat ini, pembangunannya sedang berlangsung. (Tino)



















