ADONARA, AKSARANEWS.NET – Yohanes Meko Bentu, seorang petani di Desa Wureh, Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, mulai menerapkan ilmu dan pengalaman yang diperolehnya usai mengikuti program magang di Soe, Timor Tengah Selatan.
Yohanes Bentu merupakan salah satu dari 90 petani Flores Timur, termasuk para petani dari Kecamatan Adonara Barat, yang mengikuti Program Membangun Ekosistem Produksi Hortikultura Lokal Berbasis Good Agricultural Practices (GAP).
Kegiatan yang berlangsung pada 8 – 19 Juni 2026 itu merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Flores Timur dengan Plan International, GIZ, dan Krisna Foundation. Pelaksanaan program tersebut tanpa membebani APBD.
Yohanes menuturkan bahwa ilmu dan pengalaman yang paling berkesan dan sangat bermanfaat baginya selama mengikuti magang adalah penerapan pola tanam tumpang sari dan pemupukan berimbang.
Sepulang dari Soe, ia langsung mempraktikkan ilmu yang diperoleh. Di lahannya, ia menerapkan pola tanam tumpang sari dengan mengombinasikan kacang panjang, pakcoy, kemangi, sawi manis, dan ketimun.
Yohanes mengatakan bahwa penerapan pola tanam tersebut mulai memberikan dampak positif terhadap efisiensi budidaya maupun pertumbuhan tanaman.
“Setelah menerapkan pola tanam tumpang sari, saya merasakan beberapa manfaat. Waktu menjadi lebih efisien karena dalam satu bedeng bisa ditanami tiga jenis tanaman dengan umur panen yang berbeda,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Pola tanam tumpang sari, kata dia, juga membuat biaya perawatan lebih hemat. Tidak membutuhkan banyak pupuk, dan pengendalian hama lebih mudah sehingga cukup satu kali penyemprotan untuk beberapa jenis tanaman.
Yohanes mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pemupukan. Sebelum mengikuti magang, dirinya hanya menggunakan pupuk urea untuk berbagai jenis tanaman, baik sayuran daun maupun tanaman buah.
Setelah mengikuti magang, ia memahami pentingnya penggunaan pupuk NPK serta kompos atau bokashi sebagai pupuk dasar untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
“Setelah saya terapkan, pertumbuhan tanaman terlihat lebih cepat dan menunjukkan perubahan yang baik.” sebut Yohanes Bentu.
Perubahan tersebut membuatnya semakin optimistis menghadapi musim panen. Setelah belasan tahun menggeluti usaha hortikultura, Yohanes merasakan perkembangan tanaman yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
“Melihat pertumbuhan tanaman saat ini, saya berharap hasil panennya memuaskan. Selama belasan tahun menjadi petani hortikultura, baru kali ini saya melihat perkembangan tanaman sebaik ini,” tandasnya.
Yohanes Bentu berharap tindak lanjut program tersebut dapat terus berlanjut melalui kerja sama antara petani, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Selain itu, ia juga memohon dukungan pemerintah berupa sarana dan prasarana pertanian yang lebih modern, seperti cultivator, agar petani dapat mengembangkan usaha taninya dengan lebih optimal. (Tino)

















