LEMBATA, AKSARANEWS.NET – Melkior Perang salah satu pekerja yang mengalami kecelakaan saat bekerja di lokasi pekerjaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Watokobu, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata pada beberapa waktu lalu.
Atas kejadian tersebut langsung mendapat atensi khusus dari Komandan Kodim 1624/ Flores Timur, Letkol Inf. Erly Merlian, S. I.P.
Komandan Erly mengungkapkan dirinya sejak menerima laporan dari rekanan Willy Hurek, dirinya menegaskan untuk mengurus dan menyelesaikan persoalan ini dengan penuh tanggungjawab.
“Rekanan tidak boleh lepas tangan atau lari dari tanggungjawab. Rekanan saya sudah arahkan secara tegas untuk menyelesaikan persoalan ini. Rekanan harus bertanggungjawab. Dia sudah lapor ke saya dan sudah saya arahkan”, ungkap Dandim Erly.
Menurutnya, keliru kalau pekerja di KDMP seolah seolah mendapat tekanan dari aparat TNI.
“Itu tidak benar. Tidak ada tekanan. Tidak ada intimidasi aparat TNI. Kita juga tidak menginginkan kecelakaan ini terjadi. Kita selesaikan persoalan ini dengan baik”, ungkapnya.
Ketika disinggung terkait tuntutan kelurga korban untuk menanggung biaya pengobatan, Dandim Erly menyatakan isi arahannya kepada rekanan adalah bertanggungjawab secara moril dan materiil termasuk menanggung semua biaya pengobatan selama perawatan baik di rumah sakit maupun di rumah.
Sementara itu, Wilhelmus Hurek ketika dikonfirmasi media ini pada Jumat, 3 Juli 2026 membenarkan arahan Dandim Erly untuk bertanggubgjawab atas kejadian ini.
“Benar saya bertemu dengan Pak Dandim tanggal 26 Juni 2026. Dan beliau mengarahkan saya untuk bertanggungjawab penuh termasuk menanggung biaya pengobatan korban Melkior”, ungkapnya.
Ia menyampaikan para pekerja tersebut termasuk Melkior Perang direkrut oleh Yan Hekur sebagai pemborong, sekalipun demikian dirinya tetap bertanggungjawab. Bahkan Willy Hurek sudah bertemu dengan keluarga korban termasuk Yongki Warat.
Kepada keluarga, menurut pengakuan Willy Hurek, sudah menyampaikan terkait biaya pengobatan dan perawatan yang akan ditanggung pihaknya.
“Saat bertemu korban bersama keluarga saya sampaikan kebetulan BPJS korban masih aktif tetapi kalau ada biaya yang tidak ditanggung BPJS akan kami tanggung. Bahkan saya bilang biaya hidup anak istrinya menjadi tanggubgjawab kami selama korban Melkior dalam perawatan. Jadi tidak benar kalau kami lari dari tanggungjawab.”, ungkap Willy.
Willy Hurek juga menyampaikan permohonan maaf kepada korban bersama keluarganya atas kejadian ini. Ia pun mengaku dirinya memang hanya sekali mengunjungi korban saat masih berada di rumah sakit, bukan berarti menyepelekan persolan ini.
“Kami sedang berada di rumah korban untuk menyelesaikan masalah ini sekaligus meminta maaf kepada korban dan keluarganya”, ungkap Willy Hurek kepada suluhnusa.com, 3 Juli 2026.
Sebelumnya diberitakan pekerjaan kontruksi bangunan Koperasi Merah Putih yang kerap menuai protes di seluruh Indonesia kini mulai makan korban pekerja. Bekerja dengan tekanan tinggi nihil prosedur keselamatan kerjasama menjadi ancaman serius.
Kecelakaan yang mengenaskan ini terjadi 24 Juni 2026 sekitar pukul 12.00 Wita, korbannya Melkior Perang. Ia jatuh dari ketinggian sekitar 9 meter. Melkior terkena aliran listrik Karena bekerja tanpa standar keselanatan kerja.
Ia mengalami luka berat di pelipis, luka parah di sisi kiri badan, serta luka di bagian kemaluan akibat gesekan. Bahkan Melkior tidak sadarkan diri, dirawat di Ruang ICU RS Damian Lewoleba, hingga saat ini masih menjalani rawat jalan dan butuh perawatan intensif.
Salah satu Keluarga Korban, Yongki Warat, ketika menghubungi SuluhNusa.com, 3 Juli 2026, menjelaskan semua ini terjadi karena di lokasi pekerjaan Kopdes Merah Putih Desa Watokobu tidak ada SOP Keselamatan dan perlindungan kerja.
Ia mengaku menyesal bahkan marah lantaran para pihak yang mengaku bertanggungjawab tidak memiliki rasa empati terhadap adiknya yang mengalami kecelakaan di lokasi kegiatan.
“Saya marah. Kesal. Ini Nyawa manusia. Mereka lebih mementingkan keuntungan dan pekerjaan cepat selesai ketimbang nyawa manusia adik saya. Sesama manusia harusnya memiliki empati kemanusiaan,” tegas Nyongki Warat. (Tim).

















