Pemda Desak Pertamina Patra Niaga Audit Total Distribusi BBM ke Lembata
LEWOLEBA, AKSARANEWS.NET – Warga Kabupaten Lembata kembali menjadi korban krisis bahan bakar minyak (BBM). Dua SPBU, yakni SPBU Waijarang dan SPBU Balauring, menghentikan pelayanan pada Kamis (5/11/2026).
Akibatnya, aktivitas masyarakat nyaris lumpuh. Kantor-kantor pemerintah sepi, antrean kendaraan roda empat dan roda dua mengular di SPBU yang masih buka, padahal pelayanan pengisian sudah tidak ada sejak lima hari belakangan.
Dari tiga SPBU yang beroperasi di Lembata, hanya SPBU Tanah Merah yang masih melayani pada Kamis, 5 November 2026. Kondisi ini memperburuk krisis BBM yang sudah berlangsung lebih dari dua pekan.
Penghentian pelayanan itu bukan tanpa alasan. Pengelola kedua SPBU memprotes selisih volume BBM yang berulang kali terjadi dalam setiap pengiriman.
Setiap kali melakukan loading order 10 ton ke Pertamina, BBM yang sampai di SPBU hanya 9,9 ton. Ada kekurangan 100 liter untuk setiap jenis produk, baik Pertalite, Solar, maupun Pertamax.
“Misalnya mereka melakukan loading order atau permintaan ke Pertamina sebanyak 10 ton, tetapi yang diterima dari transportir hanya 9,9 ton. Ada kekurangan 100 liter untuk setiap produk, baik Pertalite, Solar maupun Pertamax. Mereka rugi 100 liter dikalikan harga dasar masing-masing jenis BBM,” jelas Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Kabupaten Lembata, El Mandiri, kepada wartawan, Kamis (5/11/2026).
Keluhan soal selisih volume itu, kata El Mandiri, sudah berulang kali disampaikan ke Pertamina Patra Niaga Maumere. Namun hingga kini belum ada penyelesaian yang memuaskan. Karena itu, pengelola SPBU memilih tidak melakukan pemesanan harian sebagai bentuk protes.
Pemerintah daerah memastikan kedua SPBU akan kembali beroperasi pada Jumat (6/11/2026). Pada hari yang sama, Pertamina Patra Niaga Maumere dijadwalkan turun ke Lembata untuk membahas persoalan tersebut.
“Besok (hari ini, Jumat – Red) SPBU Waijarang dan SPBU Balauring sudah buka kembali. Besok (hari ini) juga dari Pertamina Patra Niaga Maumere turun ke Lembata,” ujar El Mandiri.
Untuk pelayanan Jumat, SPBU Waijarang menyiapkan stok Pertalite 10 ton dan Pertamax 5 ton. Sementara SPBU Balauring menyiapkan Pertalite 5 ton dan Pertamax 10 ton.
Pemda Lembata berharap kedatangan Pertamina Patra Niaga tidak sekadar seremonial, tetapi membawa solusi. Pemda meminta audit menyeluruh terhadap rantai distribusi BBM, mulai dari pengiriman di depot, proses pengangkutan oleh transportir PT Hikam, hingga BBM diterima di SPBU.
Selama ini, distribusi BBM untuk SPBU di Lembata dilayani PT Hikam. Sementara PT Trans Florety melayani kebutuhan khusus BBM untuk PLN Lembata. Jika ada kelebihan pesanan yang tidak dapat diangkut PT Hikam, barulah dititipkan melalui PT Trans Florety.
“Pemerintah daerah berharap persoalan distribusi dan selisih volume BBM tidak terus berulang. Sebab, di tengah kelangkaan yang belum sepenuhnya teratasi, terganggunya pelayanan SPBU semakin membebani masyarakat,” kata El Mandiri.
Hingga berita ini diturunkan, Yoga, SBM Pertamina Patra Niaga Rayon NTT enggan memberi konfirmasi ketika dihubungi wartawan. Pihak transportir PT Hikam pun belum memberikan klarifikasi dengan alasan atasan tidak sedang berada di tempat.
Masyarakat Lembata kini menunggu, apakah kedatangan Pertamina Patra Niaga ke Lembata akan mengakhiri krisis yang sudah berlarut selama lebih dari dua dekade, atau hanya menjadi janji baru yang kembali dilupakan.

















