LEWOLEBA, AKSARANEWS.NET – Di usia ke-27, Lembata akhirnya bicara soal layanan cuci darah. Bupati P. Kanisius Tuaq meninjau RSUD Lewoleba, Senin (12/10/2026), dengan target operasi Februari 2027. Janji itu melegakan, tapi juga menguji keseriusan.
Faktanya, ini bukan pengadaan biasa. Pemkab Lembata harus menempuh skema KSO dengan PT Internusa Jaya Raya lewat MoU 6 Agustus 2026 karena RSUD tak mampu beli alat sendiri. Gedung yang dipakai pun bukan gedung baru, melainkan bekas ICU yang direvitalisasi.
Direktur RSUD Lewoleba, drg. Yoseph Freinademets Paun, jujur mengakui: hemodialisis itu spesifik dan rumit. Dua perawat baru dijadwalkan latih di Sardjito dan Gatot Soebroto. Dokter spesialis penyakit dalam masih disiapkan. Izin BPJS Kesehatan pun belum dikantongi.
“Sekarang kami berproses untuk mengirim tenaga, baik perawat maupun dokter, untuk mengikuti pelatihan hemodialisa. Untuk sementara, yang sudah memiliki jadwal itu dua perawat,” ujarnya.
Lanjutnya, selain SDM, rumah sakit juga menyiapkan ruang pelayanan. Gedung bekas instalasi ICU direncanakan menjadi lokasi hemodialisis, tetapi perlu ditata ulang sesuai ketentuan teknis dan standar pelayanan yang berlaku.
Artinya, mesin saja tidak cukup. Tanpa SDM terlatih, instalasi air khusus dialisis, pengendalian infeksi, dan kepastian pembiayaan BPJS, layanan ini hanya akan jadi pajangan HUT.
Selama ini pasien gagal ginjal Lembata harus habis biaya dan tenaga ke Kupang. Jika Februari 2027 benar beroperasi sesuai standar, itu baru kado nyata. Jika tidak, ini hanya akan jadi seremoni tahunan yang diulang tiap HUT.
Pertaruhannya: apakah Lembata mampu merawat janji ini sampai benar-benar mengalirkan darah pasiennya sendiri di Lewoleba?


















