HADAKEWA, AKSARANEWS.NET – Di Rumah Situs 7 Maret 1954, Desa Hadakewa, api persatuan kembali dinyalakan. Bukan sekadar seremoni menyambut HUT ke-27 Kabupaten Lembata, ritual sakral Tutung Padu atau Seru Padu yang digelar Kamis (8/10/2026) menjadi pengingat keras: Lembata lahir dari persatuan, bukan perpecahan.
Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati Muhamad Nasir, Kajari, Sekda Paskalis Ola Tapo Bali, TNI/Polri, mengikuti napak tilas dan renungan suci. Momen puncaknya, Bupati Kanis menyulut obor dan menyerahkannya kepada perwakilan Hamente, Kakan dan Kerajaan Lebala – simbol semangat perjuangan Lomblen yang tak boleh padam.
Budayawan Linus Beseng yang memandu ritual itu mengingatkan sejarah emas: perjuangan Lomblen terbebas dari penindasan dan kemiskinan hanya bisa dimenangkan karena 6 kekuatan bersatu.
Mereka adalah Hamente Lewotolok, Hamente Kalikur, Hamente Kawela, Kakang Hadakewa, Kakan Lamalera, dan Raja Lebala.
Pesan Moral untuk Pemimpin Hari Ini
Linus menegaskan, Tutung Padu bukan ritual hura-hura. Ada tiga pesan moral kepemimpinan di dalamnya:
1. Bersyukur atas perlindungan setahun,
2. Memohon maaf atas salah kata dan laku,
3. Memohon kekuatan agar pemimpin tetap melayani dengan baik.
“Jabatan bukan sekadar kewenangan, melainkan amanah,” pesan itu menggaung di situs bersejarah.
Jika leluhur mampu menyatukan 5 Hamente dan 1 Kerajaan demi kepentingan bersama, pertanyaan reflektifnya: mampukah generasi hari ini menjaga persatuan di tengah kompleksnya tantangan pembangunan, anggaran, dan perbedaan pandangan?
Taan Tou Adalah Fondasi Pembangunan
Jawabannya ada pada semangat Taan Tou – bersatu menjaga dan membangun Lewotana.
Taan Tou bukan berarti meniadakan kritik. Tapi kritik harus memperbaiki, bukan memecah. Pembangunan tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Tokoh adat, tokoh agama, pengusaha, kaum muda, semua punya peran.
Harapan rakyat yang dititipkan dalam ritual itu pun sederhana tapi mendalam: hidup sehat, kebutuhan terpenuhi, anak-anak sekolah baik, dan keluarga bisa hidup tenang di kampung halaman.
Rangkaian ditutup dengan penanaman pohon di depan Rumah Situs sebagai simbol keteduhan — bahwa sejarah dan lingkungan harus sama-sama dirawat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Ursula Surat Bayo, DWP Maria Anastasia Bara Baje, para Staf Ahli, Asisten, pimpinan OPD, camat, dan tokoh masyarakat.
Situs 7 Maret bukan hanya tempat menoleh ke masa lalu. Dari sanalah Lembata harus menatap masa depan: dengan persatuan sebagai fondasi pembangunan yang adil, bermartabat, dan berkelanjutan.

















