LARANTUKA, AKSARANEWS.NET – Potensi kakao di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, mulai diarahkan ke tahap hilirisasi. Biji kakao yang selama ini dijual sebagai bahan mentah mulai diolah menjadi cokelat siap konsumsi.
Pelatihan pengolahan kakao beberapa waktu lalu selama empat hari di Desa Ipiebang, Kecamatan Adonara Timur, menghadirkan Dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta, Windu Baskoro, dan pelaku UMKM pengolahan kakao asal Yogyakarta, Dimas Wahyu.
Windu Baskoro, yang juga menjabat ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STEI Yogyakarta, mengatakan kedatangannya ke Flores Timur merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi, salah satunya riset mengenai Pulau Adonara.
Ia menyebut Pulau Adonara memiliki potensi luar biasa dengan budaya tenun yang sangat kuat, sehingga layak didorong sebagai “Pulau Tenun Indonesia.”

Menurutnya, branding Pulau Adonara sebagai “Pulau Tenun” juga perlu didukung dengan pengembangan potensi sumber daya alam lainnya, termasuk kakao.
“Alhamdulillah, tahun ini kita sudah bisa memproduksi dari biji kakao mentah dalam waktu empat hari,” ujarnya, Sabtu (19/9/2026), di Hotel Kartika, Larantuka.
Ia menilai, kualitas kakao Adonara sangat baik dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi bagi petani dan masyarakat.
Sementara itu, Dimas Wahyu menuturkan dirinya tertarik datang ke Flores Timur setelah mendengar cerita tentang potensi kakao di daerah ini. Ia kemudian berbagi pengetahuan mengenai pengolahan kakao menjadi produk cokelat.
“Kita sampai di sini melihat prospeknya sangat bagus sekali karena daya saingnya juga sedikit, makanya kita bersemangat untuk melakukan tukar ilmu dengan daerah Adonara, terutama Ipiebang,” kata Owner Hsil Chocolate Yogyakarta itu.
Selama pelatihan, masyarakat Desa Ipiebang telah mampu memproduksi cokelat secara mandiri menggunakan satu unit mesin pasta sebagai alat pengolahan. Proses pengupasan dan sangrai masih dilakukan secara manual.
“Alhamdulillah selama empat hari engga saya tanganin mereka bisa buat coklat secara mandiri. Dan uji cobanya, sudah kita uji coba. Ternyata Alhamdulillah rasanya enak, memuaskan,” ujar Dimas.
Ia mengatakan, pendampingan tetap akan dilanjutkan agar kelompok usaha yang telah dibentuk dapat berkembang dan menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik.
Kepala Desa Ipiebang, Agus Rahman, menuturkan pelatihan tersebut diikuti sekitar 15 orang. Dari kegiatan itu, masyarakat juga telah membentuk kelompok usaha bersama.
“Jadi untuk pelatihan ini kita laksanakan empat hari, tapi dalam pelaksanaan itu dua hari sudah bisa menghasilkan cokelat yang siap untuk dikonsumsi,” ungkap Agus.
Ia berharap pemerintah daerah dapat membantu dari sisi peralatan sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan.
“Harapan kami terhadap pemda setempat, semoga kegiatan ini bisa berjalan kedepannya, kemudian didukung oleh perlengkapan atau peralatan,” ujarnya.
Ia juga berharap produk tersebut segera mendapat kelengkapan administrasi, termasuk izin halal, sehingga dapat diproduksi dan dipasarkan secara berkelanjutan.
“Jadi harapan kami selaku pemerintah desa, semoga secepatnya dilegalkan secara administrasinya, sehingga kami bisa melakukan produksi untuk jangka panjang,” lanjut Agus.
Ia menyebut peluang pasar juga sudah mulai terbuka. Salah satunya terdapat peluang ekspor ke Portugal sekitar Oktober mendatang melalui jaringan yang dibangun oleh Windu Baskoro.
“Jadi nanti kita produksi ini mereka bawanya ke Jogja untuk terus ke Portugal,” imbuh dia.
Pada hari yang sama, saat bertemu Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, di Rumah Jabatan Bupati, Kepala Desa Ipiebang, Agus Rahman, bersama Windu dan Dimas membawa serta beberapa produk cokelat Adonara dan garam Solor dalam kemasan.
Bupati Doni Dihen menyampaikan apresiasi atas hasil kerja lapangan yang dilakukan selama 12 hari di Desa Ipiebang dan Desa Boleng di Pulau Adonara, serta Desa Menanga di Pulau Solor.
Ia menyebut produk cokelat yang sudah dihasilkan menjadi langkah awal bagi pemerintah daerah untuk mendorong pengembangan kakao hingga menjadi produk jadi.
“Karena cokelat, produk turunan cokelat yang selama ini kita berpikir masih jauh sekali, ternyata datang membawa produknya yang sudah jadi, dan menjadi tanggung jawab kami untuk mengembangkannya lebih lanjut,” ungkapnya.
Selain kakao, garam Solor yang dibawa dalam kemasan juga mendapat perhatian. Bupati menilai kemasan dan hasil penelitian awal terhadap produk tersebut menjadi modal untuk memperluas pemasaran.
“Kemasannya bagus, semoga bisa membuat produk kita ini masuk ke pasar yang lebih luas. Dan sebagai pemerintah daerah kita tentu merasa bertanggung jawab siap untuk mengembangkannya ke depan,” tandasnya.
Bupati Doni Dihen juga menegaskan pemerintah daerah siap memberikan dukungan dan fasilitasi terhadap pengembangan produk yang sudah dirintis.
Selain kakao dan garam, kerja sama tersebut juga membawa gagasan menjadikan Pulau Adonara sebagai Pulau Tenun Indonesia.
Windu mengatakan kekuatan budaya tenun Adonara menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan sebagai identitas produk daerah.
Bupati Doni Dihen menyambut baik gagasan tersebut dan berharap kolaborasi dengan pihak dari STEI Yogyakarta dapat terus berlanjut.
“Kerja sama ini tentu kami harapkan berlanjut pada masa yang akan datang, sebab pengembangan dan pendampingan selama 12 hari tentu belum cukup untuk kemandirian masyarakat,” pungkasnya.
Dengan adanya pendampingan lanjutan, pemerintah daerah berharap produk kakao, garam, dan tenun dari Flores Timur tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat berkembang hingga memiliki pasar yang lebih luas. (Tino)

















