LEWOLEBA, AKSARANEWS.NET – Minder, takut salah, dan cemas saat harus berbicara di depan umum. Itulah tembok tak terlihat yang selama ini sering membatasi potensi perempuan.
Tembok itu yang coba dirobohkan Perwabantt Cabang Lewoleba. Bertempat di Aula Lantai 2 Bank NTT Cabang Lewoleba, Rabu (9/9/2026), puluhan anggota Perwabantt ditempa dalam pelatihan public speaking yang intens dan penuh praktik.
Bukan sekadar belajar bicara, pelatihan bertema ‘Peningkatan Rasa Percaya Diri dan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga’ ini menjadi panggung latihan untuk melahirkan perempuan yang berani bersuara, memimpin, dan menginspirasi.
“Perempuan Lembata itu hebat-hebat, potensinya besar. Hanya saja kadang kurang ruang dan kurang berani untuk tampil. Padahal perempuan tidak boleh hanya berkarya di dapur dan ruang keluarga, tapi harus berani hadir di ruang sosial dan pembangunan,” tegas Ketua Perwabantt Cabang Lewoleba, Fransiska Kolin Lewar dengan berapi-api.
Bukan Teori, Langsung Praktik Pimpin Rapat
Berangkat dari motto ‘Perempuan Berkarya Menginspirasi’, Bidang Pendidikan Perwabantt sengaja merancang pelatihan yang tidak membosankan.
Mereka menghadirkan praktisi komunikasi, Martinus Ola Nedin. Ia tidak hanya memberi teori soal cara menyampaikan pesan dan membangun citra pemimpin, tapi langsung membongkar akar masalah: rasa takut salah dan tidak percaya diri.
Suasana pun berubah hidup ketika sesi simulasi dimulai. Satu per satu anggota diminta maju, memimpin rapat, menyampaikan pendapat, dan mengelola forum. Grogi itu ada, tapi tepuk tangan dan dukungan dari sesama anggota membuat keberanian itu tumbuh.
“Public speaking itu bukan soal pintar ngomong di panggung. Ini soal karakter. Ketika seorang perempuan percaya diri menyampaikan gagasannya, ia sedang menggerakkan keluarganya dan lingkungannya ke arah yang lebih positif,” jelas Martinus.
Untuk Keluarga, Untuk Lembata
Pelatihan ini mendapat dukungan penuh dari Pembina Perwabantt, Petrus Soba Lewar. Menurutnya, di era sekarang, kemampuan komunikasi adalah mata uang utama kepemimpinan.
“Pemimpin yang komunikasinya baik, rezekinya akan terbuka. Ia mudah membangun hubungan, mudah menyampaikan ide, dan mudah memberi pengaruh. Kalau istrinya cakap berkomunikasi dan punya leadership kuat, itu sangat membantu kerja-kerja suami dan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Fransiska menambahkan, ini bukan kegiatan seremonial sekali selesai. Perwabantt berkomitmen menjadikannya program berkelanjutan. Bahkan, ke depan ia berencana membuat pelatihan di ruang terbuka dengan melibatkan para suami.
“Kuncinya satu: jangan berhenti belajar. Perbanyak membaca, asah terus kemampuan. Kepercayaan diri itu tidak datang tiba-tiba, ia dibangun dari keberanian untuk mencoba,” tutup Fransiska.
Dari Lewoleba, para perempuan ini pulang tidak hanya membawa materi, tapi juga sebuah kesadaran baru: bahwa suara mereka penting, dan sudah saatnya didengar.

















