JAKARTA, AKSARANEWS.NET – Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga mengancam keberlangsungan pendidikan ribuan anak. Data sementara Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana mencatat 512 sekolah terdampak, dengan 166 sekolah mengalami kerusakan berat dan 478 ruang kelas rusak berat. Kondisi ini berdampak pada sedikitnya 25.765 siswa.
Tujuh kabupaten yang tercakup dalam pemetaan tersebut adalah Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Sikka. Akses pendidikan di sejumlah wilayah juga masih menghadapi tantangan. Dua sekolah dasar di Ende dan satu layanan pendidikan anak usia dini di Manggarai Timur belum dapat diakses paska gempa.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa terhadap anak tidak berhenti pada kerusakan fisik. Ketika sekolah tidak dapat digunakan, anak kehilangan ruang untuk belajar, bermain, berinteraksi, dan mendapatkan dukungan dari guru serta teman sebaya. Dalam situasi bencana, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko anak mengalami tekanan psikologis dan kehilangan rutinitas yang penting bagi proses pemulihan mereka.
“Gempa dapat terjadi dalam hitungan detik, tetapi dampaknya terhadap pendidikan dan masa depan anak dapat berlangsung jauh lebih lama. Karena itu, pemulihan pendidikan tidak boleh menunggu sampai seluruh proses pemulihan bencana selesai. Pendidikan anak harus menjadi bagian dari respons sejak fase darurat.” Tegas Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan Indonesia
Sejak hari pertama pascagempa, Plan Indonesia telah bergerak di sejumlah wilayah terdampak di Pulau Flores untuk merespons kebutuhan penyintas, khususnya anak dan kelompok rentan.
Plan Indonesia telah melakukan kaji cepat kebutuhan serta menyalurkan ratusan paket bantuan darurat ke sejumlah titik pengungsian di Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, dan Sikka. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan dasar seperti perlengkapan kebersihan keluarga, perlengkapan kebersihan menstruasi, perlengkapan hunian sementara, alat permainan edukatif, air minum, dan makanan ringan.
Dalam respons pendidikan, Plan Indonesia juga telah memberikan dukungan psikososial kepada ratusan anak di lokasi pengungsian. Dukungan ini bertujuan membantu anak menghadapi tekanan dan ketakutan akibat gempa sekaligus memberikan ruang yang aman bagi mereka untuk bermain, berinteraksi, dan mulai memulihkan rasa aman.
Plan Indonesia terus berkoordinasi dengan Klaster Pendidikan yang dipimpin oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan kebutuhan pendidikan anak terdampak menjadi bagian dari respons kemanusiaan dan pemulihan.
“Dalam keadaan darurat, anak tidak boleh kehilangan haknya untuk belajar. Ketika sekolah rusak, kita perlu menghadirkan alternatif agar proses belajar tetap berlangsung. Ketika guru dan anak sama-sama terdampak, keduanya membutuhkan dukungan. Dan ketika sekolah mengalami kerusakan, proses perbaikan harus dimulai sedini mungkin.” Jelas Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan Indonesia

















