Feature Oleh Indah Purnama Dewi
Anggota Bawaslu Lembata
Pagi belum sepenuhnya terang ketika rumah mulai berdenyut oleh rutinitas. Air mendidih di dapur, seragam anak dilipat rapi, doa-doa pendek terucap lirih sebelum pintu ditutup. Di ruang yang sederhana itu, seorang perempuan menunaikan peran yang sering tak tercatat: menjaga kehidupan
Namun setelah pintu rumah tertutup, langkah mereka berubah arah. Seragam dikenakan, berkas disusun dan tanggung jawab besar menanti. Di luar rumah, mereka bukan lagi sekadar penjaga keluarga—mereka adalah penjaga demokrasi.
Menjadi perempuan pengawas Pemilu bukanlah peran biasa. Ia menuntut keteguhan sikap, keberanian bersuara dan kejujuran yang tak bisa ditawar. Di ruang-ruang pengawasan, perempuan hadir membawa ketelitian dan empati, dua hal yang sering kali menjadi penentu keadilan dalam proses demokrasi.
Mereka mengawal setiap tahapan Pemilu dengan kesadaran penuh bahwa satu kelalaian kecil dapat berdampak besar bagi hak pilih rakyat.
Dipilih menjadi pemimpin bukanlah akhir perjuangan, justru awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Di pundak mereka, keadilan tidak boleh goyah oleh tekanan dan kebenaran tidak boleh dikaburkan oleh kepentingan. Mereka bersiap menghadapi laporan pelanggaran, membaca satu per satu fakta, menimbang hukum dengan hati yang jernih dan pikiran yang merdeka.
Saat sengketa Pemilu dan Pilkada hadir,
mereka berdiri di garis yang tidak mudah
menjadi penengah di tengah tarik-menarik kepentingan, menjadi penjaga prosedur saat emosi memuncak dan menjadi suara keadilan bagi hak-hak warga negara. Keputusan yang diambil bukan sekadar administrasi, melainkan ikhtiar menjaga kepercayaan publik.
Di tengah tugas itu, perempuan pengawas juga berhadapan dengan tantangan yang tak selalu tertulis dalam regulasi. Tekanan psikologis, ancaman, stigma, hingga kekerasan—baik verbal, fisik, maupun di ruang digital—kerap menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi. Namun mereka tetap berdiri, bukan karena tidak takut, melainkan karena mereka tahu demokrasi membutuhkan keberanian yang lahir dari nurani.

Di rumah, anak-anak mungkin bertanya mengapa ibu sering pulang larut. Di kantor, keputusan harus diambil tanpa ruang ragu. Di antara dua dunia itu, perempuan pengawas Pemilu belajar menyeimbangkan cinta dan tanggung jawab, perasaan dan profesionalisme. Mereka menyimpan lelahnya sendiri, agar keadilan tetap berjalan.
Kehadiran perempuan dalam pengawasan Pemilu sesungguhnya membawa makna lebih dari sekadar keterwakilan. Ia menghadirkan perspektif yang inklusif, sensitif terhadap kelompok rentan, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Perempuan memahami bahwa Pemilu bukan hanya soal siapa yang menang, tetapi tentang bagaimana proses dijalankan dengan bermartabat dan bebas dari kekerasan.
Melalui kegiatan konsolidasi perempuan pengawas Pemilu dan masyarakat sipil, ruang-ruang penguatan dibuka. Di sanalah cerita dibagikan, pengalaman disatukan, dan harapan dirajut bersama. Bukan untuk mengeluh, tetapi untuk saling menguatkan. Sebab perempuan tidak berjalan sendiri dalam menjaga demokrasi—mereka saling menopang.
Transformasi digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari Pemilu juga dihadapi dengan kesiapan dan kehati-hatian. Perempuan pengawas hadir sebagai garda terdepan dalam memastikan teknologi menjadi alat perlindungan hak, bukan sumber kekerasan baru. Mereka belajar, beradaptasi, dan terus melangkah agar pengawasan tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, perjuangan perempuan pengawas Pemilu adalah kisah tentang pengabdian yang jarang disorot. Tentang air mata yang jatuh di ruang sunyi. Tentang doa yang dipanjatkan sebelum sidang dimulai. Tentang rindu yang ditahan demi amanah.
Jika hari ini demokrasi masih berdiri dengan kepercayaan publik yang terjaga, maka di dalamnya ada peran perempuan yang memilih untuk setia pada nilai, meski harus membagi dirinya antara rumah dan amanah
Mereka bukan hanya pengawas Pemilu.
Mereka adalah ibu bagi keluarga,
dan penjaga nurani bagi demokrasi Indonesia.
Selamat Hari Ibu


















