LARANTUKA, AKSARANEWS.NET – Sebanyak 40 pemuda dari Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka mengikuti Pelatihan Youth Campaign yang berlangsung di Hotel Gelekat Nara, Larantuka, pada 15–18 Oktober 2026.
Kegiatan ini merupakan program Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga, dengan pelaksanaan melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur.
Pelatihan bagi pemuda berusia 16 hingga 30 tahun ini menjadi ruang bagi peserta untuk belajar menyampaikan informasi kepada masyarakat, khususnya mengenai pencegahan dan penanganan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Ketut Supiastra, Kepala Seksi pada Bidang Perencanaan dan Pelatihan Tenaga Kerja Dinas Nakertrans Provinsi NTT, menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.
Saat diwawancarai pada Jumat (16/10/2026), di sela waktu istirahat, Ketut menjelaskan anak muda memiliki peran penting dalam membantu pemerintah menyebarluaskan informasi tentang prosedur bekerja yang benar.
“Pemerintah membutuhkan sosialisasi kepada masyarakat bagaimana secara masif memberikan pengetahuan, literasi ke masyarakat, bagaimana cara bekerja yang benar,” kata dia.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa bekerja di luar daerah maupun di luar negeri diperbolehkan, selama mengikuti ketentuan dan prosedur yang berlaku.
“Karena kan pemerintah tidak pernah melarang orang bekerja dimanapun. Boleh bekerja dimanapun, tapi wajib mereka mengikuti namanya ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Ia menambahkan, pekerja yang berangkat melalui jalur nonprosedural memiliki risiko lebih besar untuk terjerumus dalam persoalan perdagangan orang. Karena itu, pemahaman mengenai prosedur bekerja menjadi salah satu materi penting dalam pelatihan tersebut.
Ia juga menyebut data dan fakta mengenai kondisi di Flores Timur dan Sikka menjadi bagian dari materi yang diberikan kepada peserta, termasuk terkait pemulangan jenazah pekerja dari luar daerah.
Ketut menegaskan, pemulangan jenazah tidak serta-merta berarti korban TPPO. Namun, kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi yang perlu dicermati, terutama jika berkaitan dengan pekerja yang berangkat secara nonprosedural.
Dalam pelatihan itu, peserta tidak hanya menerima materi tentang regulasi dan strategi pemerintah dalam pencegahan serta penanganan TPPO, tetapi juga berlatih membuat media kampanye untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Dari 40 peserta, mereka dibagi menjadi delapan kelompok yang masing-masing terdiri atas lima orang. Peserta berlatih menyusun presentasi dan membuat video mengenai pencegahan dan penanganan TPPO.
Ketut mengapresiasi keaktifan peserta selama mengikuti kegiatan, termasuk saat mempraktikkan materi yang telah diterima.
“Luar biasa hari ini. Mereka sudah tampil sangat bagus dari 40 peserta. Dibagi 8 kelompok, karena satu kelompok lima-lima orang. Mereka semua aktif dan sangat dinamis di perkembangan kita diskusi,” ungkapnya.
Menurut dia, kemampuan menyampaikan informasi menjadi hal penting bagi peserta yang dipersiapkan sebagai duta pemerintah dalam mengedukasi masyarakat.
Sebab, pemahaman teori saja belum cukup jika tidak diikuti kemampuan mengemas dan menyampaikan pesan secara tepat melalui media yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia berharap para peserta terus memperkaya pengetahuan mengenai regulasi, kebijakan pemerintah, serta penerapannya di lapangan agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar dan mudah dipahami.
“Harapan saya masyarakat bisa teredukasi melalui teman-teman kita, anak-anak kita yang hari ini ikut pelatihan, ikut BIMTEK, bisa menyampaikan informasi dan bisa menerima informasi yang sebanyak mungkin,” ungkapnya.
Ketut berharap keterlibatan para pemuda dalam kampanye tersebut dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat serta menekan risiko perdagangan orang di Flores Timur dan Sikka.
“Sehingga semakin berkuranglah korban-korban yang terjadi di Flores Timur dan Sikka,” tutupnya. (Tino)

















