LEMBATA, AKSARANEWS.NET – IDEP Selaras Alam bermitra dengan BARAKAT melalui program DREAMS (Disaster Resilience through Education, Adaptation and Mitigation Strategies) gelar Lokakarya Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) di Tanah Merah, Lewoleba, Kabupaten Lembata. Jumat, (23/05/2025).
Marselina Sherly Maran dari BARAKAT mengatakan kegiatan ini dilakukan mengingat perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang berdampak serius pada berbagai sektor kehidupan, termasuk pertanian dan perikanan yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat di wilayah pesisir dan pedesaan.
Perubahan suhu, curah hujan yang tidak menentu, serta meningkatnya frekuensi bencana seperti banjir, kekeringan dan badai menyebabkan kerusakan ekosistem, gagal panen dan menurunnya hasil tangkapan laut.

Peristiwa banjir bandang yang melanda Desa Lamawolo dan Desa Waimatan pada tahun 2021 memperparah kerentanan masyarakat terhadap ancaman tersebut. Banyak lahan pertanian rusak dan ketahanan pangan menjadi semakin terancam.
“Program ini mencakup pelatihan PRB, pembentukan Kelompok Masyarakat Peduli Bencana (KMPB), penyusunan rencana kontingensi, simulasi bencana, serta pelatihan permakultur sebagai pendekatan terpadu untuk konservasi lingkungan dan produksi pangan berkelanjutan,” Ucap Marselina
Lanjutnya, kegiatan ini untuk memperkuat pemahaman dan mengingatkan kembali para penerima manfaat atas praktik-praktik baik yang telah diperkenalkan dalam pelatihan PRB dan mitigasi iklim berbasis permakultur, diperlukan penguatan melalui pendekatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE).
Kepala Desa Lamawolo, Antonius Ngaji mengatakan Lokakarya ini penting dan menjadi sarana penyampaian informasi
“Lokakarya KIE ini menjadi penting sebagai sarana penyampaian informasi secara lebih luas, baik kepada para penerima manfaat maupun masyarakat umum yang belum mengikuti pelatihan sebelumnya,” Ucap Antonius.
Waktu yang bersamaan Project Manager dari IDEP Selaras Alam Ketut Listyani Rejeki mengharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terhadap perubahan iklim.
“Lokakarya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana dan adaptasi terhadap perubahan iklim,” Kata Ketut Listya
Lanjutnya kegiatan ini memiliki tujuan yang ingin dicapai diantaranya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengemas informasi lokal menjadi media komunikasi yang edukatif, kreatif dan mudah dipahami untuk meningkatkan kesadaran dan aksi kolektif dalam hal permakultur dan pengurangan risiko bencana.
Menyebarluaskan informasi terkait PRB dan mitigasi iklim berbasis permakultur kepada penerima manfaat maupun masyarakat umum yang belum mengikuti pelatihan sebelumnya. Mendorong kesepakatan dan kemampuan peserta dalam memproduksi berbagai media komunikasi untuk topik kebencanaan dan permakultur.
Memverifikasi dan memvalidasi konten dari berbagai media yang telah diproduksi oleh para penerima manfaat. Memvalidasi peta hasil pemetaan partisipatif bersama para pemangku kepentingan dan masyarakat di
Desa Waimatan dan Desa Lamawolo.
“Hasil yang Diharapkan dari rangkaian pelatihan ini adalah dapat meningkatnya pemahaman peserta terhadap praktik-praktik yang telah diperkenalkan dalam pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan mitigasi iklim berbasis permakultur,” Harap Listya
Untuk diketahui kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dan pada hari terakhir lokakarya KIE juga akan diselenggarakan kegiatan lokakarya validasi peta partisipatif, sebagai tindak lanjut dari proses pemetaan partisipatif yang telah dilakukan sebelumnya bersama masyarakat.
Validasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil peta yang telah disusun benar-benar merefleksikan kondisi, pengetahuan lokal, dan potensi risiko yang ada di wilayah masing-masing desa.