LEMBATA, AKSARANEWS.NET – Isu bom ikan dan sampah laut diangkat ke atas panggung teater oleh siswa SMA Negeri 1 Ile Ape.
Melalui pementasan berjudul “Embun di Padang Laut” karya Olland Prawine, mereka menyuarakan pentingnya konservasi laut berbasis budaya Lamaholot.
Pementasan ini tidak sekadar menampilkan drama keluarga nelayan, tetapi menawarkan kajian ekokritik yang kuat. Cerita berpusat pada perjuangan seorang anak muda yang resah melihat praktik penangkapan ikan yang merusak di kampungnya sendiri. Ia kemudian mencoba menghidupkan kembali tradisi larangan adat sebagai upaya perlindungan laut.
Konflik ekologis tergambar jelas dalam dialog-dialog tajam antar tokoh. Salah satu tokoh bernama Kopong berdialog dengan anaknya Lukas dengan kalimat:
“Sementara kita sudah lebih mudah menangkap ikan dengan bom ikan.”
Kalimat tersebut menjadi representasi praktik destruktif yang masih terjadi di perairan Lembata.
Kritik semakin dipertegas dalam adegan Lukas bersama kedua orang tuanya, Kopong dan Kewa:
“Lihat! Laut indah dengan sampah. Tubuhnya lebam karena ledakan bom.”
Dalam pementasan ini, laut tidak lagi diposisikan hanya sebagai latar belakang cerita. Melalui diksi kata “Tubuh” yang lebam, laut diperlakukan sebagai subjek yang menderita, yang merasakan sakit akibat ulah manusia.

Olland Prawine selaku penulis dan sutradara menuturkan, pementasan ini sengaja mengangkat relasi timbal balik antara manusia dan laut. Bagi masyarakat Etnik Lamaholot, laut adalah padang pencaharian, penopang hidup. Namun relasi itu dikhianati oleh tindakan berlebihan manusia sendiri yang membuang sampah dan mengebom ikan.
“Teater ini adalah bentuk kesadaran. Kami ingin mengingatkan bahwa melestarikan ekosistem bawah laut bukan tugas orang lain, tapi tugas kita yang hidupnya bergantung pada laut,” ujar Olland Prawine.
Pementasan Embun di Padang Laut yang dipersembahkan oleh Bidang Ekstrakurikuler Teater SMA Negeri 1 Ile Ape ini diharapkan mampu membangunkan kepedulian kolektif masyarakat pesisir terhadap masa depan laut mereka.
Naskah ini dinilai sebagai salah satu contoh praktik ecotheatre atau teater ekologi di Indonesia Timur, di mana seni pertunjukan digunakan untuk merespons isu krisis iklim dan kerusakan lingkungan secara langsung dari perspektif budaya lokal.
*Referensi*
¹ Ningsih, A. M., Kristiana, V., Nurmala, D., & Risnawaty, R. (2026). Eco-consciousness and human-nature relations in contemporary British drama: An ecocritical study of selected plays. ELSYA: Journal of English Language Studies, 8(2). unilak.ac.id
Penulis : Olland Prawine
Editor : Redaksi

















