LEMBATA, AKSARANEWS.NET – Bukit Cinta Lembata memiliki potensi daya tarik wisata alam dan buatan berupa panorama perbukitan dan memiliki kondisi geografis serta lingkungan yang mendukung habitat burung walet, seperti ketersediaan pakan alami, tingkat kelembapan yang sesuai, serta lokasi yang relatif tenang dan aman.
Di sisi lain, Dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan, pembangunan rumah walet diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai sarana produksi, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi dan agrowisata, yang memberikan nilai tambah bagi kawasan tersebut.
Demikian hal yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata, Yakobus Andreas Wuwur melalui Sekdis Kris Molan pada peresmian di rumah walet Bukit Cinta Lembata. Jumat, (9/1/25).
Kris mengatakan bahwa pembangunan rumah walet merupakan salah satu upaya strategis dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam guna mendukung peningkatan perekonomian masyarakat.
“Usaha sarang burung walet memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta prospek yang menjanjikan apabila dikelola secara terencana, terpadu dan berkelanjutan. Selain memberikan manfaat ekonomi, pengelolaan rumah walet yang baik juga dapat disinergikan dengan pengembangan sektor pariwisata berbasis alam dan edukasi,” Kata Kris dalam laporannya.
Lebih lanjut Sekdis Pariwisata Lembata ini mengatakan Pengembangan rumah walet yang terintegrasi dengan konsep pariwisata diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, seperti penyediaan jasa pemandu wisata, produk olahan dan cenderamata, serta peningkatan usaha mikro dan kreatif lokal.
Kris mengatakan maksud dari Pembangunan rumah walet di kawasan Bukit Cinta Lembata ini adalah menyediakan rumah walet sesuai standar kebutuhan burung walet dengan tujuan Menambah daya tarik destinasi wisata khususnya destinasi di BCL dalam hal ini wisata buatan dan wisata edukasi, Mendorong peningkatan kunjungan wisatawan di Destinasi Bukit Cinta Lembata dan Mendorong adanya tambahan sumber pendapatan selain kunjungan dalam hal ini manfaat ekonomi sarang walet.
“Potensi dan Proyeksi Penjualan berdasarkan pengalaman aktivis/ pelaku audit walet, yakni populasi walet untuk paling lama dalam 6 bulan sebanyak kurang lebih 500 ekor. Waktu mulai panen dapat dioptimalkan tahun kedua, dengan asumsi jika rata rata panen bulanan sebanyak 1 kg, dengan harga jual Rp.8.000.000/kg, maka total penjualan per tahun sebesar 96.000.000” Tandas Kris
“Diharapkan hasil pembangunan ini dapat dimanfaatkan secara optimal serta memberikan manfaat ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar,” Harap Kris



















