LEMBATA, AKSARANEWS.NET – Pemerintah Kabupaten Lembata dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif siap menggelar Festival Lamaholot 2025 yang akan di gelar pada 07-10 Oktober mendatang.
Dengan tema yang diusung “Tue Taan Ago Lewo – Tane Taan Towe Tana (Menenun Kehidupan).
Tren Wisatawan mancanegara berkunjung ke Lembata meningkat rata-rata 50-68℅. Tren ini dampak dari mobilisasi wisatawan dari Flores ke Alor melalui Lembata dan Sebaliknya.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata Yakobus Andreas Wuwur saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Selasa, (19/08/2025).
Menurut Jack Wuwur Festival ini menjadi istimewa, karena dengan adanya efisiensi anggaran menjadi tantangan bagi Disparekraf Lembata untuk mensukseskan kegiatan akbar tahunan ini.
“Berbagai persiapan yang kini telah mencapai sekitar 80 persen dan persiapan teknis sedang berlangsung dengan harapan festival Lamaholot 2025 berjalan dengan baik dari tahun sebelumnya,” Ucap Jack Wuwur
Disampaikan dalam rangka meriahkan Festival Lamaholot kabupaten Lembata 2025, Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif mengundang semua elemen masyarakat dan Dinas yang ada di kabupaten Lembata serta Kabupaten tetangga seperti Alor dan Flores Timur dan juga akan mengundang Gubernur NTT serta Mentri Pariwisata.

Kadis Parekraf Kabupaten Lembata ini menargetkan 10.000 an peserta hadir dalam acara pembukaan Festival Lamaholot ini.
“Kita juga berharap agar seluruh mitra pariwisata dan pelaku ekonomi kreatif untuk terus memberikan dukungan partisipatif baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Terkhusus di event Festival Lamaholot sebagai momen untuk berkonsolidasi dalam membangun pariwisata dan ekonomi kreatif di kabupaten Lembata”, kata Jack Wuwur.
“Dengan meningkatnya daya tarik pariwisata di Lembata, perkembangan kunjungan wisatawan cenderung meningkat tiap tahunnya.” Ujar Jack Wuwur
Disela perbincangan, Jack Wuwur mengatakan tujuan festival Lamaholot ini adalah sebagai ajang ekspresi budaya tahunan (Komunitas Adat) sekaligus media promosi dan pemasaran paket wisata, pangan lokal dan produk ekraf bersama Kabupaten Flores Timur, Alor dan Lembata yang berada dalam bentangan satu kawasan dan NTT umumnya.
“Dapat juga meningkatkan peran serta pelaku industri pariwisata dan masyarakat adat di destinasi termasuk di desa wisata dan desa sasaran MBKP 2024 dalam pengembangan sektor pariwisata yang berkelanjutan,” Lanjut Wuwur.