EMPAT Agustus 2025, Pukul Empat Sore. Terik tak jua meredah di Tanah Merah. Panas yang lebih panjang dalam seharian menyebabkan tanaman sekitar meranggas, rumput liarpun dibuatnya hangus.
Panas di Tanah Merah hanyalah satu dari ratusan kampung di Lembata yang merasakan Panas lebih dari musim panas sebelumnya. Kesulitan sayuran hijau jadi keluhan yang seolah tak berujung.
Tanah Merah juga salah satu Resetlement bagi korban bencana banjir bandang 2022 yang menerpa wilayah Ile Ape.
Namun pemandangan hijau di sekitar sumur itu menumbuhkan harapan adanya penghidupan lebih baik di tengah perubahan iklim yang makin memprihatinakan.
Melalui Program Disaster Resilience through Education, Adaptation, and Mitigation Strategies (DREAMS) Kerjasama IDEP Selaras Alam dan BARAKAT, daerah tandus itu diubah menjadi sentra budidaya sayuran organik.
Satu bulan bekerja dalam iklim yang sangat kering dan panas, kelompok Masyarakat Peduli Bencana (KMPB), Desa Waimatan, yang menghuni Tanah Merah, mengandalkan satu-satunya sumur dengan volume air yang sangat kecil. Meski semula tak yakin, namun akhirnya kelompok tersebut mampu memanen sayuran organik.
Maria Avelina Ema, Ketua Kelompok KMPB, Desa Waimatan mengatakan, setelah mendapatkan pelatihan bersama Yayasan Barakat tentang pembuatan pupuk organis ramah lingkungan, serta upaya pemanfatan sumber air dalam jumlah sangat sedikit, pihaknya mulai membudidaya sayuran kangkung dan sawi.
“Kami mulai membuka lahan, membuat bedenagan dan tanam sayuran sawi dan kangkung sejak 7 Juli dan pada hari ini, 4 Agustus 2025, pertama kali kami panen,” ujar Maria dengan wajah sumringah.
Ketua Kelompok ini menjelaskan, Idep dan Barakat telah mengajarkan cara tanam sayuran di tengah iklim kering dengan menggunakan pupuk organik yang berasal dari Batang pisang dan kotoran ternak ayam.
Setelah panen perdana sayuran ini, kelompok yang beranggotakan 30 anggota itu berniat membuka lahan baru, menanam sayuran segar organik untuk menopang ekonomi anggota. Lebih dari itu, Maria ingin menerobos tantangan perubahan iklim dengan produktivitas pertanian.
Ia berharap sayuran yang ditanam bisa sukses memberikan manfaat ekonomis.
Maria Kewa Witak, Ketua PKK Desa Waimatan menjelaskan, Pihaknya merasa terbantu dengan produski sayuran organik di Desanya karena dapat menyuplai gizi bagi anak gizi kurang.
‘Di pasar sayuran banyak tetapi banyk menggunakan bahan kimia. Kelompok yang rata-rata perempuan ini diharap bisa merubah ekonomi keluarga tidak bergantung pada Suami,” ujar Maria.
Ia berharap, Kedepan Yayasan Barakat bisa memperluas jaringan pelayanan dan advokasi agar bisa membantu desa-desa lain untuk mengurangi dampak penggunaan pupuk kimia*** TIM